Senin, 11 Mei 2020

Mengenal Hingga Terkenal

Saya Binna mahasiswi matematika yang kerjaannya selalu bercerita. Bermula dari senang berkumpul dalam satu ruangan. Sudah dua tahun rutinitas ini saya lakukan. Tiba-tiba pikiran saya merangkai kata seperti ini, “Ah, kumpulan ini salah, tak ada gunanya. Saya takkan bicarakan teman-teman terdekat saya hanya untuk menjerat perhatian teman lainnya”. Tersadar bahwa rutinitas yang susah diberantas itu adalah hal yang salah.
Menjadi seorang mahasiswi kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang di semester satu bangku kuliah amat membosankan. Saat memasuki tahun ketiga rasa jenuh berakhir dengan cara yang luar biasa. Saya mengalami kecelakaan ringan yang membuat saya harus mendekap di rumah sakit selama lima hari.
Lima hari, masa yang singkat untuk memutar haluan kehidupan. Memori jatuhnya saya dari kendaraan seketika hilang tak berbekas dalam ingatan. Sehingga tidak membuat saya trauma untuk kembali mengendarai sepeda motor saya tercinta. Arah perjalanan bahtera saya berputar, jiwa menjadi semakin tegar dan sabar. Keberanian saya terbakar laksana api sedang menghanguskan arang, terus menerus membara.
Seluruh sudut kampus seakan menjadi kepunyaan pribadi. Awal masuknya saya ke dalam himpunan hanya menjadi setitik debu yang tak pernah dilihat. Sendiri terdiam dalam sudut ruangan tiap kali diadakannya rapat mingguan. Semua organ tubuh terus bekerja, mata mengamati, lisan mengomentari, akal mengkritisi dan hati selalu berbisik ingin memperbaiki.
Saat periode pertama akan berakhir saya ditunjuk untuk menjadi Master of Ceremony pada musyawarah besar untuk membaiat pemimpin baru. Yeah, selesailah masa menjadi debu. Beralih ke masa menjadi benalu, hama bagi si pemimpin baru yang sangat jauh dari kata taat. Dalam periode yang sama saya merangkap dua jabatan sekaligus yaitu bendahara umum himpunan mahasiswa jurusan dan anggota bidang bakat dan minat pada dewan eksekutif fakultas saat itu. Betapa besarnya keuntungan atas terkumpulnya dua organisasi di tangan saya. Salah satu perkumpulan sudut memaksa saya untuk berdiri seorang diri dan sudut lainnya menuntun saya untuk berbagi.
Pada himpunan jurusan di masa itu kami seakan seperti berjalan namun tertatih, bernafas namun terpangkas dan berdiri namun tanpa arti. Pimpinan kami sibuk mengukir cinta dan merajut kasih sayangnya pada setangkai bunga di dalam lingkungan kampus, bahkan tanpa rasa malu berdebat dengan penuh kepalsuan di hadapan kami semua. Pemberontakan saya terhadap sikapnya menggentarkan gedung saat itu. Hal itulah yang membuat saya dikenal mahasiswa dan aktivis lainnya.
Pada kumpulan mahasiswa fakultas saya seakan ingin selalu melihat tetapi tak ingin dilihat. Uniknya di sini saya melakukan apapun secara suka rela, tanpa penghargaan. Namun putaran waktu berjalan menjawab sesuatu hal yang ternyata menjadi tujuan. Dia yang perlahan teramati berubah menjadi sosok yang dimaknai. “Saya dan dia akan segera menjadi kita” demikian kata hati. Gelagat, sikap dan lisan saya dan dirinya seakan sedang menceritakan kisah nyata yang indah di hadapan anggota lainnya. Semua terbuka tanpa tabir. Arahan, bisikan dan pikiran selalu mengarah kepada satu kata yaitu menikah.
Soal asmara, ternyata prinsip kami sama, “Jangan pacaran sebab dosanya berat”. Kami menjalani resah-rusuhnya hati dengan mendekat kepada Sang Rabbi. Lembar demi lembar saya menyelinap masuk ke dalam akun rahasianya dan begitu juga dengan dirinya. Kami begitu menikmati semua proses dengan mengabaikan segala protes. Sebelum diijabkabulkan syariat tetap membataskan kesatuan jiwa raga kami. Hanya bertahan dengan satu keyakinan pasti, “Cinta suci akan berlabuh pada tempat dan waktu yang tepat, bersabarlah wahai”.

Sedikit Sisa dari Air Sungai

  Menyemai benih di setiap sudut kehidupan. Panggil saja saya Binna, anak semata wayang dari keluarga tanpa tiang. “Keluarga” saya sendiri masih mengumpulkan serpihan-serpihan kosa kata lain untuk menjelaskan maknanya. Jika ada yang mengatakan keluarga adalah tiang untuk awal mulanya suatu kehidupan, iyakah? Namun mengapa saya masih hidup??? Di usia delapan tahun, saya kehilangan sebelah bahu saya. Bukan bantal yang menjadi sandaran empuk bagi jiwa ini, tapi bahu. Sekeras apapun bahu itu dan selemah apapun ia, pasti akan meneduhkan hati saat jiwa raga bisa bersandar di sana. Hati dituntut untuk segera terbuka bagi sosok baru.
Orang baru dengan perangai dan peran yang berbeda. Mungkin seluruh orang di dunia akan merasa sedih hatinya ketika kehilangan ibunya. Usia saya saat itu tak mampu menerjemahkan makna kehilangan. Di tengah hingar bingar orang sekeliling mengucapkan bela sungkawa. Saya masih mampu tersenyum dan tertawa.
Hal bodoh memang, tapi sangat bahagia jika kebodohan itu membuat saya mampu berdiri tegak sampai saat ini. Tiada guna air mata mengalir hingga bertahun-tahun lamanya. Sikap keras kakak saya telah menyingkap kesalahan dari kehidupan banyak orang.
Layaknya sungai yang telah sekian lama tak difungsikan. Maka akan tumbuh dan berkembanglah lumut dan parasit lain di dalamnya. Yaps, tepat sekali, seseorang hadir langsung mengambil posisinya sebagai penyakit. Cukuplah hati yang tersayat melumpuhkan segala organ lain. Saya dan kakanda tetap hidup dan terus hidup. Namun tak ada warna dan hampa rasanya dengan ketiadaan ibunda. Hanya warna hitam yang menjadi tinta hati kami.
Sayangnya si lebah tak tahu menahu mengenai madu yang dihasilkannya. Madunya tak lagi menyembuhkan, malah melumpuhkan kehidupan orang lain. Ia membuat ayahanda tak sadar buah hatinya saat itu sudah tumbuh besar. Ia parasit kehidupan kami, seakan-akan terus meminum air sungai yang jernih hingga sampai pada dasar permukaan. Ketika ia dapati sebutir debu di cawannya ia langsung meninggalkannya. Seakan ingin mengatakan, “Nah, saya sisakan sedikit air yang sudah tak cukup jernih ini untuk kalian minum, semoga bisa sedikit membantu”. Nihil, bagaimana bisa benalu membantu seseorang yang sedang pilu.
Merelakan segalanya akan lebih indah ketimbang terus mengeluh kepada Sang Pencipta. Skenario-Nya jauh lebih sempurna. Keterbatasan manusia untuk memahami jalannya skenario ini adalah suatu kelemahan yang otomatis menjadi power dari segala power. Sumber kekuatan ialah kelemahan. Bisikan penuh makna terngiang-ngiang. “Ayolah jiwa, mereka butuh nutrisi, sandarkan emosi, ambisi, dan obsesi hanya kepada Sang Maha Bijak.” Demikian kata hati saat itu. Saya hanya inginkan hidup saya mengalir seperti air di sungai.
Mengalirlah sebagai air yang jernih. Berikan kebaikan sebanyak mungkin untuk orang lain yang berada di pinggir sungai dan bagi mereka menanti di penghujung sungai. Tinggalkan semua yang buruk di tepi, teruslah berjalan wahai air. Barangkali sampah dan kotoran yang menyertaimu hanya ingin mengganggu kedamaian dan merusak kebaikanmu. Yakinlah dengan kualitas kejernihanmu, sebab mereka di sana sedang membutuhkan si air bukan yang lain.