Saya
Binna mahasiswi matematika yang kerjaannya selalu bercerita. Bermula dari
senang berkumpul dalam satu ruangan. Sudah dua tahun rutinitas ini saya
lakukan. Tiba-tiba pikiran saya merangkai kata seperti ini, “Ah, kumpulan ini
salah, tak ada gunanya. Saya takkan bicarakan teman-teman terdekat saya hanya
untuk menjerat perhatian teman lainnya”. Tersadar bahwa rutinitas yang susah
diberantas itu adalah hal yang salah.
Menjadi
seorang mahasiswi kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang di semester satu
bangku kuliah amat membosankan. Saat memasuki tahun ketiga rasa jenuh berakhir
dengan cara yang luar biasa. Saya mengalami kecelakaan ringan yang membuat saya
harus mendekap di rumah sakit selama lima hari.
Lima
hari, masa yang singkat untuk memutar haluan kehidupan. Memori jatuhnya saya
dari kendaraan seketika hilang tak berbekas dalam ingatan. Sehingga tidak
membuat saya trauma untuk kembali mengendarai sepeda motor saya tercinta. Arah
perjalanan bahtera saya berputar, jiwa menjadi semakin tegar dan sabar.
Keberanian saya terbakar laksana api sedang menghanguskan arang, terus menerus
membara.
Seluruh
sudut kampus seakan menjadi kepunyaan pribadi. Awal masuknya saya ke dalam
himpunan hanya menjadi setitik debu yang tak pernah dilihat. Sendiri terdiam
dalam sudut ruangan tiap kali diadakannya rapat mingguan. Semua organ tubuh
terus bekerja, mata mengamati, lisan mengomentari, akal mengkritisi dan hati
selalu berbisik ingin memperbaiki.
Saat
periode pertama akan berakhir saya ditunjuk untuk menjadi Master of Ceremony
pada musyawarah besar untuk membaiat pemimpin baru. Yeah, selesailah masa
menjadi debu. Beralih ke masa menjadi benalu, hama bagi si pemimpin baru yang
sangat jauh dari kata taat. Dalam periode yang sama saya merangkap dua jabatan
sekaligus yaitu bendahara umum himpunan mahasiswa jurusan dan anggota bidang
bakat dan minat pada dewan eksekutif fakultas saat itu. Betapa besarnya
keuntungan atas terkumpulnya dua organisasi di tangan saya. Salah satu
perkumpulan sudut memaksa saya untuk berdiri seorang diri dan sudut lainnya
menuntun saya untuk berbagi.
Pada
himpunan jurusan di masa itu kami seakan seperti berjalan namun tertatih,
bernafas namun terpangkas dan berdiri namun tanpa arti. Pimpinan kami sibuk
mengukir cinta dan merajut kasih sayangnya pada setangkai bunga di dalam
lingkungan kampus, bahkan tanpa rasa malu berdebat dengan penuh kepalsuan di
hadapan kami semua. Pemberontakan saya terhadap sikapnya menggentarkan gedung
saat itu. Hal itulah yang membuat saya dikenal mahasiswa dan aktivis lainnya.
Pada
kumpulan mahasiswa fakultas saya seakan ingin selalu melihat tetapi tak ingin
dilihat. Uniknya di sini saya melakukan apapun secara suka rela, tanpa
penghargaan. Namun putaran waktu berjalan menjawab sesuatu hal yang ternyata
menjadi tujuan. Dia yang perlahan teramati berubah menjadi sosok yang dimaknai.
“Saya dan dia akan segera menjadi kita” demikian kata hati. Gelagat, sikap dan
lisan saya dan dirinya seakan sedang menceritakan kisah nyata yang indah di
hadapan anggota lainnya. Semua terbuka tanpa tabir. Arahan, bisikan dan pikiran
selalu mengarah kepada satu kata yaitu menikah.
Soal
asmara, ternyata prinsip kami sama, “Jangan pacaran sebab dosanya berat”. Kami
menjalani resah-rusuhnya hati dengan mendekat kepada Sang Rabbi. Lembar demi
lembar saya menyelinap masuk ke dalam akun rahasianya dan begitu juga dengan
dirinya. Kami begitu menikmati semua proses dengan mengabaikan segala protes. Sebelum
diijabkabulkan syariat tetap membataskan kesatuan jiwa raga kami. Hanya bertahan
dengan satu keyakinan pasti, “Cinta suci akan berlabuh pada tempat dan waktu yang
tepat, bersabarlah wahai”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar