Menyemai
benih di setiap sudut kehidupan. Panggil saja saya Binna, anak semata wayang
dari keluarga tanpa tiang. “Keluarga” saya sendiri masih mengumpulkan
serpihan-serpihan kosa kata lain untuk menjelaskan maknanya. Jika ada yang
mengatakan keluarga adalah tiang untuk awal mulanya suatu kehidupan, iyakah?
Namun mengapa saya masih hidup??? Di usia delapan tahun, saya kehilangan
sebelah bahu saya. Bukan bantal yang menjadi sandaran empuk bagi jiwa ini, tapi
bahu. Sekeras apapun bahu itu dan selemah apapun ia, pasti akan meneduhkan hati
saat jiwa raga bisa bersandar di sana. Hati dituntut untuk segera terbuka bagi
sosok baru.
Orang
baru dengan perangai dan peran yang berbeda. Mungkin seluruh orang di dunia
akan merasa sedih hatinya ketika kehilangan ibunya. Usia saya saat itu tak
mampu menerjemahkan makna kehilangan. Di tengah hingar bingar orang sekeliling
mengucapkan bela sungkawa. Saya masih mampu tersenyum dan tertawa.
Hal
bodoh memang, tapi sangat bahagia jika kebodohan itu membuat saya mampu berdiri
tegak sampai saat ini. Tiada guna air mata mengalir hingga bertahun-tahun
lamanya. Sikap keras kakak saya telah menyingkap kesalahan dari kehidupan
banyak orang.
Layaknya
sungai yang telah sekian lama tak difungsikan. Maka akan tumbuh dan
berkembanglah lumut dan parasit lain di dalamnya. Yaps, tepat sekali, seseorang
hadir langsung mengambil posisinya sebagai penyakit. Cukuplah hati yang
tersayat melumpuhkan segala organ lain. Saya dan kakanda tetap hidup dan terus
hidup. Namun tak ada warna dan hampa rasanya dengan ketiadaan ibunda. Hanya
warna hitam yang menjadi tinta hati kami.
Sayangnya
si lebah tak tahu menahu mengenai madu yang dihasilkannya. Madunya tak lagi
menyembuhkan, malah melumpuhkan kehidupan orang lain. Ia membuat ayahanda tak
sadar buah hatinya saat itu sudah tumbuh besar. Ia parasit kehidupan kami,
seakan-akan terus meminum air sungai yang jernih hingga sampai pada dasar
permukaan. Ketika ia dapati sebutir debu di cawannya ia langsung
meninggalkannya. Seakan ingin mengatakan, “Nah, saya sisakan sedikit air yang
sudah tak cukup jernih ini untuk kalian minum, semoga bisa sedikit membantu”.
Nihil, bagaimana bisa benalu membantu seseorang yang sedang pilu.
Merelakan
segalanya akan lebih indah ketimbang terus mengeluh kepada Sang Pencipta.
Skenario-Nya jauh lebih sempurna. Keterbatasan manusia untuk memahami jalannya
skenario ini adalah suatu kelemahan yang otomatis menjadi power dari segala
power. Sumber kekuatan ialah kelemahan. Bisikan penuh makna terngiang-ngiang. “Ayolah
jiwa, mereka butuh nutrisi, sandarkan emosi, ambisi, dan obsesi hanya kepada
Sang Maha Bijak.” Demikian kata hati saat itu. Saya hanya inginkan hidup saya
mengalir seperti air di sungai.
Mengalirlah
sebagai air yang jernih. Berikan kebaikan sebanyak mungkin untuk orang lain
yang berada di pinggir sungai dan bagi mereka menanti di penghujung sungai.
Tinggalkan semua yang buruk di tepi, teruslah berjalan wahai air. Barangkali
sampah dan kotoran yang menyertaimu hanya ingin mengganggu kedamaian dan merusak
kebaikanmu. Yakinlah dengan kualitas kejernihanmu, sebab mereka di sana sedang
membutuhkan si air bukan yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar