Senin, 11 Mei 2020

Sedikit Sisa dari Air Sungai

  Menyemai benih di setiap sudut kehidupan. Panggil saja saya Binna, anak semata wayang dari keluarga tanpa tiang. “Keluarga” saya sendiri masih mengumpulkan serpihan-serpihan kosa kata lain untuk menjelaskan maknanya. Jika ada yang mengatakan keluarga adalah tiang untuk awal mulanya suatu kehidupan, iyakah? Namun mengapa saya masih hidup??? Di usia delapan tahun, saya kehilangan sebelah bahu saya. Bukan bantal yang menjadi sandaran empuk bagi jiwa ini, tapi bahu. Sekeras apapun bahu itu dan selemah apapun ia, pasti akan meneduhkan hati saat jiwa raga bisa bersandar di sana. Hati dituntut untuk segera terbuka bagi sosok baru.
Orang baru dengan perangai dan peran yang berbeda. Mungkin seluruh orang di dunia akan merasa sedih hatinya ketika kehilangan ibunya. Usia saya saat itu tak mampu menerjemahkan makna kehilangan. Di tengah hingar bingar orang sekeliling mengucapkan bela sungkawa. Saya masih mampu tersenyum dan tertawa.
Hal bodoh memang, tapi sangat bahagia jika kebodohan itu membuat saya mampu berdiri tegak sampai saat ini. Tiada guna air mata mengalir hingga bertahun-tahun lamanya. Sikap keras kakak saya telah menyingkap kesalahan dari kehidupan banyak orang.
Layaknya sungai yang telah sekian lama tak difungsikan. Maka akan tumbuh dan berkembanglah lumut dan parasit lain di dalamnya. Yaps, tepat sekali, seseorang hadir langsung mengambil posisinya sebagai penyakit. Cukuplah hati yang tersayat melumpuhkan segala organ lain. Saya dan kakanda tetap hidup dan terus hidup. Namun tak ada warna dan hampa rasanya dengan ketiadaan ibunda. Hanya warna hitam yang menjadi tinta hati kami.
Sayangnya si lebah tak tahu menahu mengenai madu yang dihasilkannya. Madunya tak lagi menyembuhkan, malah melumpuhkan kehidupan orang lain. Ia membuat ayahanda tak sadar buah hatinya saat itu sudah tumbuh besar. Ia parasit kehidupan kami, seakan-akan terus meminum air sungai yang jernih hingga sampai pada dasar permukaan. Ketika ia dapati sebutir debu di cawannya ia langsung meninggalkannya. Seakan ingin mengatakan, “Nah, saya sisakan sedikit air yang sudah tak cukup jernih ini untuk kalian minum, semoga bisa sedikit membantu”. Nihil, bagaimana bisa benalu membantu seseorang yang sedang pilu.
Merelakan segalanya akan lebih indah ketimbang terus mengeluh kepada Sang Pencipta. Skenario-Nya jauh lebih sempurna. Keterbatasan manusia untuk memahami jalannya skenario ini adalah suatu kelemahan yang otomatis menjadi power dari segala power. Sumber kekuatan ialah kelemahan. Bisikan penuh makna terngiang-ngiang. “Ayolah jiwa, mereka butuh nutrisi, sandarkan emosi, ambisi, dan obsesi hanya kepada Sang Maha Bijak.” Demikian kata hati saat itu. Saya hanya inginkan hidup saya mengalir seperti air di sungai.
Mengalirlah sebagai air yang jernih. Berikan kebaikan sebanyak mungkin untuk orang lain yang berada di pinggir sungai dan bagi mereka menanti di penghujung sungai. Tinggalkan semua yang buruk di tepi, teruslah berjalan wahai air. Barangkali sampah dan kotoran yang menyertaimu hanya ingin mengganggu kedamaian dan merusak kebaikanmu. Yakinlah dengan kualitas kejernihanmu, sebab mereka di sana sedang membutuhkan si air bukan yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar