Sabtu, 06 September 2025

Air Mata Ibu

Nafas panjang terdengar dari ibu saat ia mengakhiri tangisannya. "Ibu mengapa menangis? Apa engkau merindukan ibumu yang telah meninggal?" bibir kecil itu bertanya dengan hati yang bersih. Padahal ibunya menangis setelah mengetahui tulang pada lengan kiri anaknya retak, dan butuh treatment 1 bulan penuh untuk menyembuhkannya. Terakhir kali Syifa melihat ibunya menangis, saat Si Ibu merindukan nenek (ibu dari ibunya). Tetapi tangisan ini berbeda, ibu menatap Syifa dengan penuh rasa sayang dan kasihan.
Andai ibu bisa mengulang waktu nak, hal yang terbesit dalam benak ibu. Syifa mengalami cedera pada lengan kiri karena terkena smash bola voli dari bundanya sendiri. Tetapi tidak ada kata maaf dan penyesalan dari wanita berusia 45 tahun itu.
Ia hanya mementingkan dirinya sendiri dan memutar balik alur cerita dengan berkata "kan sudah ku bilang, jadi kenapa membuatku merasa bersalah". Oh tidak, pemikiran dan watak macam apa ini.
Belum pernah dan tak ingin rasanya bertemu dengan orang seperti ini. Syifa anak perempuan kecil berusia 4 tahun diharuskan memahami keinginan dan sifat egois dari wanita itu. Geli rasanya memaklumi hal itu.

Kamis, 17 Desember 2020

 

Refleksi Filsafat “Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Matematika Siswa SMP”

Khairul Bariyah, S.Pd

Prof. Marsigit, MA

 

            Pendidikan karakter merupakan landasan penting pada kurikulum 2013 yang di perbaharui pada tahun 2014. Munculnya istilah ini dikarenakan terjadinya dekadensi moral di kalangan pelajar dan mahasiswa yang sangat memperihatinkan. Perilaku mereka tidak lagi mencerminkan bahwa mereka adalah seorang terpelajar, berbudaya dan berakhlak mulia. Thomas Lickona adalah seorang ahli pendidikan karakter Amerika dari Cotland University. Menurut Thomas Lickona (dalam Kosim, 2011) sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran, jika memiliki sepuluh tanda-tanda zaman, yaitu meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, membudayakan ketidakjujuran, berkembangnya sikap fanatik terhadap suatu kelompok, semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru; semakin kaburnya moral baik dan buruk, penggunaan bahasa yang memburuk; meningkatnya perilaku merusak diri seperti penggunaan narkoba, alkohol, dan seks bebas; rendahnya rasa tanggung jawab sebagai individu dan sebagai warga negara; menurunnya etos kerja; dan adanya rasa saling curiga, serta kurangnya kepedulian di antara sesama.

Hadirnya pendidikan diharapkan mampu mengatasi hal-hal tersebut. Oleh karena itu dengan perubahan pada kurikulum 2013 yang lebih mengedepankan pembentukan karakter siswa, setiap guru mempunyai kewajiban dalam menjalankan selama proses belajar mengajar di ruang kelas. Hubungan karakter dan matematika juga terdapat dalam salah satu karya Prof. Marsigit, MA, “Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika”. Dalam tulisannya, beliau membahas tentang terdapatnya benang merah antara pendidikan karakter dan pendidikan matematika, serta implementasinya. Interaksi sosial diantara para siswa dan guru akan dapat memberikan kegiatan kritisisasi untuk pembetulan konsep-konsep, sehingga siswa akan memperoleh perbaikan konsep, sehingga pengetahuan subyektif matematikanya telah sama dengan pengetahuan obyektifnya.

Pengetahuan baru matematika dapat diperoleh siswa dari lingkup sosial ataupun individual. Proses negosiasi sosial (social negotiation process) dapat membangun pengetahuan baru matematika. Dan juga dapat menunjukkan hubungan antara pengetahuan subjektif dan pengetahuan objektif dalam matematika. Pada proses pembelajaran matematika di sekolah, matematika dipandang sebagai kebenaran absolut dan pasti, akan tetapi siswa dipandang sebagai makhluk yang berkembang. Oleh karena itu, guru sangat besar perannya dalam perkembangan pengetahuan dan kemampuan siswa. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa fungsi guru ada 3, yaitu sebagai fasilitator, sumber ajar dan memonitor kegiatan siswa. Sehingga implementasi pada pendidikan matematika dan karakter membutuhkan proses mengkomunikasikan ilmu matematika secara bervariasi.

Salah satu pokok bahasan mata pelajaran matematika SMP yang dapat disisipi untuk menanamkan pendidikan karakter yaitu persamaan garis lurus. Suatu persamaan akan membentuk garis lurus jika terhimpun variabel x dan y, dan masing-masing variabel pangkat terbesarnya adalah 1. Setelah guru menunjukkan contoh beberapa garis lurus, guru mencoba menafsirkan setiap garis dengan 2 aspek berbeda dan saling berkaitan. Misalkan sumbu-x diibaratkan dengan dengan motivasi dan sumbu-y diibaratkan usaha atau kerja keras manusia (bersifat relatif). Siswa diajarkan memaknai garis lurus menjadi suatu kalimat dan pelajaran apa yang dapat diambil.

Filsafatnya garis ialah suatu benda pikir dan filsafatnya lurus adalah intuitif. Jika keduanya diintegrasikan pada pemisalan sumbu-x dan sumbu-y di atas, maka akan mempermudah siswa paham. Pemahaman siswa juga dapat membentuk karakter yang baik pada dirinya. Pada contoh ini diibaratkan pada seseorang yang kerja keras dan mempunyai motivasi. Jika garis lurus mempunyai kemiringan 1, maka artinya keduanya seimbang. Istilah seimbang dalam filsafat ialah landasan kebahagiaan. Akan tetapi jika garis lurus mendatar sejajar dengan sumbu-x, maka artinya orang yang banyak motivasi akan tetapi tidak pernah berusaha atau bekerja keras.

Karakter kerja keras menjadi penting dalam menggapai sesuatu. Kerja keras tercantum dalam salah satu dari 18 karakter merupakan hasil diskusi Pendidikan Budaya dan Bangsa (Kepmendiknas, 2010). Kemampuan siswa untuk bekerja keras dan mempunyai motivasi tinggi dapat membantu siswa menggapai seseuatu yang diinginkannya. Oleh karena itu, pembelajaran matematika pada materi persamaan garis lurus diharapkan mampu mengembangkan karakter kerja keras siswa SMP.

 

Referensi

Marsigit. Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika. Universitas Negeri Yogyakarta.

Kosim, M. 2011. Urgensi Pendidikan Karakter. KARSA, Vol. IXI No. 1 April 2011. Terdapat dalamhttp://download.portalgaruda.org/article.php?article=251036&val=6749&title=URGENSI%20PENDIDIKAN%20KARAKTER

 

Perkembangan Filsafat dari Sudut Pandang Ruang dan Waktu

 


Dari hasil video yang saya saksikan dengan seksama dan sedikit diskusi pada pertemuan pertama dengan Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A, berikut ini hasil pencermatan dan pemahaman saya terhadap filsafat. Saya memberi judul “Perkembangan Filsafat dari Sudut Pandang Keterbatasan Ruang dan Waktu”, secara garis besar saya kelompokkan ke tiga sudut pandang, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi.

Dipandang dari segi bahasa/etimologi filsafat dalam bahasa Arab dikenal dengan Falsafah,  dalam bahasa Inggris dikenal dengan Phylosophy dan dalam bahasa Yunani dikenal dengan Philosophia. Philein berarti cinta dan sophia berarti kebijaksanaan. Kata ini pertama sekali digunakan oleh Phytagoras (582-486 SM) (Suaedi: 2016, hal 7). Dan definisi secara istilah sangat luas, tergantung kepada sudut pandang seseorang. Para filsuf mengartikan filsafat berdasarkan pola pikir dan pengalamannya masing-masing. Karena tidak terdapat batasan sehingga dari abad ke abad perkembangan filsafat sejalan dengan ilmu pengetahuan. Misalkan saja, ketika kita melihat baju berwarna putih, yang kita lihat putih tersebut bukanlah warna aslinya. Akan tetapi putih itu adalah hasil pantulan dari mata kita. Proses melihat dan berpikir seperti contoh sederhana tersebut saja sudah termasuk filsafat, artinya kita sedang berfilsafat tentang warna tersebut.

Pernyataan Descartes yang sangat dikenal hingga saat ini adalah “Aku berpikir maka aku ada”. Kehidupan manusia itu metafisika. Artinya keberadaan dan realitas yang menyertai kehidupan manusia adalah hakikat secara fundamental. Setelah yang ada, masih ada yang ada lagi, begitu seterusnya. Karena manusia tidak sempurna. Kesempurnaan manusia itu ketidaksempunaan di dalam kesempurnaan. Begitu pula sebaliknya, ketidaksempurnaan manusia merupakan makna suatu kesempurnaan itu sendiri. Secara filosofis, ilmu pengetahuan harus dipahami dari 3 pilar,  yaitu; ontologi, epistemologi dan aksiologi.

1)      Ontologi

Ontologi merupakan suatu teori tentang makna dari suatu objek, properti dari suatu objek, serta relasi objek tersebut yang mungkin terjadi pada suatu domain pengetahuan. (Rai Utama: 2013, hal. 83). Manusia tidak sempurna dan terbatas oleh ruang dan waktu. Ketidak sempurnaan manusia itulah yang menjadi nilai tambah bagi manusia. Jika manusia sempurna maka ia tidak akan mampu hidup di dunia.

Pandangan-pandangan pokok ontologi (Suaedi: 2016, hal.84-87)

a.       Monoisme

Aliran filsafat yang menyatakan bahwa hanya ada satu kenyataan fundamental. Tergolong di dalamnya materialisme (hanya berpusat pada materi) dan idealisme (pemikiran tertinggi adalah ide). Idealism, sebaik-baiknya filsafat adalah paham ruang dan waktu. Orang bodoh itu yang tidak mengerti ruang dan waktu. Intuisi dua satu yaitu intuisi daya sadar dan daya tangkap manusia melalui kemampuan merasa dan berpikir instingtif dan bawah sadar dalam mengikuti fenomena menembus ruang dan waktu (Marsigit. Filsafat Penjumlahan). Pancasila itu pada hakikatnya monodualisme. Yaitu habluminallah dan habluminnas.

b.      Dualisme

Aliran yang berpendapat bahwa benda terdiri atas dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan ruh, jasad dan spirit, materi bukan muncul dari ruh, serta roh bukan muncul dari benda.

c.       Pluralisme

Paham ini berpeandangan bahwa segala macam bentuk merupakan kenyataan. Paham yang menyatakan bahwa alam ini tersusun dari berbagai unsur. Dalam buku Filsafat Ilmu dan Logika (2013, hal. 86-87) terdapat dua tambahan pandangan yaitu; nihilisme dan agnotisisme.

 

2)      Epistemologi

Epistemologi ialah cabang filsafat yang menyelidiki asal mula, susunan, metode-metode dan sahnya pengetahuan (Buku Unsur-Unsur Filsafat, Louis Kattsoff). Epistemologi is one the core areas of philosophy. It is concerned with the nature, sources and limits of knowledge. There is a vast array of view about those topics, but one virtually universal presupposition is that knowledge is true belie, but not mere true belief (Concise Routledge Encyclopedia of Philosophy, Taylor and Francis, 2003) (Dalam Rai Utama, 2013, hal. 83).

Aliran-aliran dalam epistemologi:

a.       Rasionalisme, adalah paham yang mengganggap sumber pengetahuan manusia adalah rasio. Rasionalisme itu ialah berpikir, dengan berpikir maka akan terbentuklah pengetahuan. (Suaedi: 2016, hal 7). Topik yang sangat sering dikaitkan dalam mengartikan logicism adalah matematika. Karena dianggap cara dan solusi dalam memecahkan masalah haruslah menggunakan logika. Aliran filsafat yang menggunakan logika ini adalah rasionalisme.

b.      Empirisme, paham yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengetahuan manusia.

c.       Realisme, adalah anaggapan bahwa objek indera kita adalah real (nyata).

d.      Kritisisme, paham yang mendamaikan emperisme dan rasionalisme. Paham ini berpusat pada objek. Pengetahuan manusia bisa berasal dari akal dan pengalaman.

e.       Positivisme, paham ini mengajarkan bahwa kebenaran merupan suatu hal yang logis dan ada bukti empirisnya. Ilmu logis dengan fakta objek.

f.       Skeptisisme, seseorang yang mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris. Seperti seorang yang sedang bermimpi, sulit membedakan hal yang nyata (empiris) dan yang tidak nyata (khayal)

g.      Pragmatisme, aliran  filsafat yang menjelaskan segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat.

Terdapat berbagai metodologi memperoleh pengetahuan, salah satunya ialah yang metode induktif. David Hume (1711-1776) telah membuat pernyataan yang berdasarkan observasi tunggal betapapun besar jumlahnya, secara logis tak dapat menghasilkan suatu pernyataan umum yang tak terbatas (Suaedi: 2016, hal. 100)

 

3)      Aksiologi

Dalam bahasa Yunani, aksiologi berasal dari kata axios artinya nilai dan logos artinya teori atau ilmu. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. Aksiologi bisa juga disebut sebagai the theory of value atau teori nilai. (Rai Utama: 2013, hal. 83) Dalam pembahasan aksiologi nilai menjadi fokus utama. Dalam filsafat nilai akan berkaitan dengan logika, etika dan estetika (Salam. 1997).

Hidup adalah terpilih atau memilih. Hidup terpilih oleh Tuhan, dan manusia diberi kesempatan memilih hidupnya. Maka jumlah atau tambah terpilih adalah jumlah atau tambah berketentuan yaitu milik Tuhan. Jumlah atau tambah perubahan diberikan kepada manusia disertai dengan jumlah atau tambah perubahan berketentuan. (Marsigit, Filsafat Penjumlahan). Sifat itu ada yang tetap, seperti takdir. Tidak ada manusia yang mampu merubah takdir. Dan juga ada yang berubah, seperti manusia, beubah setiap saatnya. Kemarin, hari ini, besok hari, ataupun tadi, sekarang, dan nanti. Adanya mengalami perubahan pada manusia.

Spiritualism merupakan filsafat absolutism, karena tidak ada manusia yang mampu menentang kuasa Tuhan (causaprima, sebab dari segala sebab). Adanya definisi dan asumsi yang tetap. Contoh berpikir logicism ialah ketika membahas wanita maka akan coherentism dengan perempuan. Lalu analitiknya ialah seorang ibu, kemudian konsisten itu ialah yang kita pikirkan (logika) melahirkan. Tidaklah mungkin seorang ayah atau laki-laki dapat melahirkan.

Kebanyakan orang menjadi masalah buat orang lain karena tidak menguasai dunianya. Mengapa demikian? Karena ia tidak memahami dunianya. Manusia terikat pada ruang dan waktu. Dalam filsafat juga ada yang dinamakan aksioma dan teorema. Apriori ialah pemahaman tanpa melihat objek yang dibicarakan, perannya pada level orang dewasa.

Permenides, teori filsafat bersifat tetap, misalkan A=A. Hukum identitas tautologis hanya ada di dalam pikiran manusia. Meyakini Tuhan itu Esa/satu merupakan monoism (dari segi filsafat). Sementara itu Rene Descartes, seorang tokoh rasionalism dan scepticism, karena terlalu berfokus pada pikirannya, ia sampai meragukan adanya Tuhan. Menurut Descartes sebenar benar ilmu harus berdasarkan rasio (pikiran). Scepticism sudah ada sejak zaman yunani kuno. Kemudian muncullah empericism yang menentang pemikiran Descartes, tokohnya David hume.

Filsafat itu bersifat berubah. Artinya adanya pilihan, sehingga bagi manusia memilih itu adalah ikhtiar. Hidup yang manusia akan ada yang berubah. Filsafat realisme dan materialism yang bekerja pada pemikiran ini. Karena menganggap bahwa ilmu pengetahuan itu harus adanya contoh. Meyakini adanya hukum alam, bukan logicism. Sehingga muncul yang namanya corespondensialism. Yang saling berkorespondensi adalah realita, fakta dan persepsi. Persepsi sintetik tidak menggunakan logika analitik. Semua hal bersifat material. Dan akan meyakini kebenaran suatu ilmu pengetahuan berdasarkan aposteriori, yaitu harus melihat langsung, perannya pada level anak-anak. Semuany harus berdasarkan pengalaman

Muncul lah tokoh Imanuel Kant (1671), ia membenarkan apriori dan sintetik. Sebenar-benar ilmu menurut nya adalah apriori dan sintetik. Bukunya the critic of dualism. Dalam perkembangan filsafat muncul John Locke (1632-1714) David Hume (1711-1776) dan Immanuel Kant (1724-1804). Ketiga filosof ini memberi pengaruh cukup besar terhadap perkembangan filsafat ilmu selanjutnya. Berdasar pada empirisme radikal yang dianutnya Hume yakin bahwa cara kerja logis induksi yang diperkenalkan oleh Bacon tidak mempunyai dasar teoritis sama sekali. Logika induktif ialah kontradiksi: dua kata yang bertentangan satu sama lain sebab induksi melanggar salah satu hukum logika yaitu bahwa kesimpulan tidak boleh leboh luas dari pada premis. Sanggahan Hume ini secara konsekwen sesuai dengan anggapan dasarnya bahwa hanya ada dua cara pengetahuan, yaitu pengetahuan empiris dan abstract reasoning concerning quantoty or number, yang keduanya deduktif. (Rai Utama: 2013, hal. 14)

Kant dalam hal ini memperkenalkan cara pengenalan dan mengambil kesimpulan secara sintetis yang di peroleh secara a posteriori dan putusan analitis dan diperoleh secara a priori, di samping itu juga kesimpulan yang bersifat sintetis yang juga diperoleh secara a priori. Ilmu pasti disusun atas putusan yang a priori yang bersifat sintetis. Ilmu pengetahuan mengandaikan adanya putusan - putusan yang memberikan pengertian baru (sintetis) dan yang pasti mutlak serta bersifat umum (a priori). Maka ilmu pengetahuan menuntut adanya putusan-putusan yang bersifat a priori yang bersifat sintesis. Ketiga teorinya ini dikenal dengan nama Kritik Rasio Murni yang dikemukakan dalam Kritik der Reinen Vernunft. (Rai Utama: 2013, hal. 15).

Positivisme merupakan suatu aliran filasafat yang dibangun oleh Auguste Comte (1798-1857). Intinya positivisme ingin membersihkan ilmu dari spekulasi-spekulasi yang tidak dapat dibuktikan secara positif. Comte ingin mengembangkan ilmu dengan melakukan percobaan (eksperimen) terhadap bahan faktual yang terdapat dalam kenyataan empirik, bukan dengan jalan menyusun spekulasispekulasi rasional yang tidak dapat dibuktikan secara positif lewat eksperirnen. Bagi Comte, positivisme merupakan tahap akhir atau puncak dalam perkembangan pemikiran manusia. Comte membagi perkembangan pernikiran manusia dalam tiga.tahap, yaitu: a) Tahap mistik-teologik; b) Tahap metafisik; 3) Tahap positif. (Rai Utama: 2013, hal : 29).

Kemudian muncul tokoh Aguste Compte (1857), mengatakan semua pendepat mereka tidak ada gunanya membangun dunia. Menurutnya agama itu tidak logis, tidak dapat membangun dunia, dalam bukunya positivism. Ia menaruh agama/spiritualitas. Teknologi itu menghasilkan kesejarteraan dan kemunafikan. Tidak ada orang saat ini yang tidak terlambat shalat karena HP.

 

Sumber : Seminar Nasional Pendidikan Matematika (SENDIKA)

“Inovasi Pendidikan di Tengah Tantangan Global” oleh Marsigit

 

            Perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini, secara garis besar dapat digambarkan seperti bagan di atas. Power now comtemporary, archaic (manusia baru, yang diuji berkali kali tapi tidak mau membaca), tribal (pedalaman), tradisional, feudal, modern, pos modern. Keseluruhannya di latar belakangi dengan capitalism, materialism, pragmatism, hedonism, utilitarisnism, functionalism dan liberalism. Dan sekarang ini muncul gerakan Trumpism, America merasa telah menguasai dunia.

 

 

Sumber :

Marsigit. 2017. “Inovasi Pendidikan di Tengah Tantangan Global”. Seminar Nasional Pendidikan Matematika (SENDIKA).

Marsigit. Filsafat Penjumlahan. Media Sosial Facebook.

Rai Utama, I Gusti Bagus. 2013. Filsafat Ilmu dan Logika. Universitas Dhyana Pura Badung.

Suaedi 2016. Pengantar Ilmu. PT penerbit IPB Press.

Teori Immanuel Kant tentang Pengetahuan


1.      A Priori dan A Posteriori    

Penulis mencoba memahami lebih dalam makna dari kata-kata dengan makna yang tersirat pada karya Immanuel Kant berjudul “Critique of Pure Reason”. Buku ini membahas gagasan Kant tentang pengetahuan. Beberapa gaya penulisannya terkesan sangat kaku dan sulit dimengerti. Gagasan yang disampaikan eksak dan sangat hati-hati. Meskipun demikian, gagasan-gagasan yang ada sangat jelas dan nyata maknanya.

Pemikiran Immanuel Kant telah menyatukan dua paham yang saling bertentangan antara akal dan pancaindera). Kritisisme yang telah dipelopori oleh Immanuel Kant berusaha menyatukan keduanya, yaitu rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme yang dicetuskan oleh Rene Descartes dan beberap tokoh lainnya telah gagal membangun transendensi Tuhan atas alam dan empirisme juga gagal membuktikan eksistensi alam yang diyakini sebagai yang berbeda dari pikiran. Rasionalisme lambat laun menjadi panteisme implisit ala Descartes dan empirisme menjadi skeptisisme. Kegagalan rasionalisme dan empirisme adalah konsekuensi logis dari fenomenalisme yang sebenarnya. Lalu, muncullah pemikiran I. Kant menyatukan rasionalisme dan empirisme dalam semacam fenomenalisme baru.

Pada pendahuluan, Kant bahkan telah menuliskan banyak pemikiran baru yang tidak dipikirkan oleh orang-orang yang hidup semasa dengannya. Pembahasan Kant dalam Critique of Pure Reason salah satu bagian penting adalah konsep analisis transendental. Menurut pendapatnya, jiwa manusia merupakan actor yang mengkontruksi dunianya sendiri. Melalui a priori dormal, jiwa manusia mengatur data kasar pengalaman (pengindraan) dan kemudian membangun ilmu-ilmu matematika dan fisika. Melalui kehendak yang otonom jiwa membangun moralitas dan melalui perasaan manusia menempatkan realitas dalam hubungannya dengan tujuan tertentu yang hendak dicapai serta memahami semuanya secara inheren sebagai yang memiliki tendensi kepada kesatuan.

Syarat setiap putusan sintetis a priori adalah harus memiliki forma (form) dan materi (matter). Form diberikan oleh intelek, independen dari semua pengalaman, a priori, menandakan fungsi, cara dan hokum mengetahui dan bertindak yang eksistensinya mendahului seluruh pengelaman. Dan materi ialah sensasi subjektif yang kita terima dari dunia luar. Bagi Kant sintetis a priori merupakan sesuatu yang esensial karena merupakn bagian dari keutuhan nalar manusia. Sintetis a priori juga merupakan kondisi niscaya yang diperlukan agar pengetahuan menjadi mungkin. Kekhasan pemikiran Immanuel Kant terdapat pada pemikiran ini, yang disebut sebagai Revolusi Copernicus.

Menggunakan kedua unsur yang menjadi syarat putusan sintetis a priori tersebut, menjadi manfaat dari dipersatukan rasionalisme dan empirisme dalam putusan yang sama: forma mewakili unsur universal dan niscaya, dan materi mewakili data empiris. Pengtahuan diperoleh melalui putusan a priori Kant adalah jenis perngetahuan yang memiliki nilai fenomenal dan tidak memeberikan pemahaman yang valid terhadap objek, sebagai pengetahuan yang ada di alam saja tetapi hanya sejauh itu yang dipikirkan oleh subjek.

Menurutnya, a priori adalah “is absolutely so of all experience, pure knowledge.” Sedangkan a posteriori berasal dari pengamatan dan pengalaman, dan berasal dari metode induksi. Kebenaran a priori dibagi dua, yaitu judgment a priori, yaitu sebuah kebenaran apabila kita memiliki sebuah proposisi yang mengandung ide kepentingan dalam konsepsinya; sementara itu absolut a priori adalah kebenaran yang tidak datang dari proposisi apapun. Kant berusaha membela pendapatnya ini dari Hume, yang memang beranggapan bahwa semua pengetahuan berasal dari a posteriori. Argument Kant adalah bahwa ada pengetahuan yang memang sudah ada a priori tanpa kita perlu mengamati untuk mengetahui bahwa pengetahuan itu adalah benar. Pertanyaan selanjutnya adalah, Bagaimana pengetahuan kita bisa sampai kepada pengertian a priori ini, dan sejauh apa kebenaran yang dimilikinya? Kant menganggap bahwa pengetahuan a posteriori adalah keinginan manusia untuk merasa nyaman dalam pengetahuan yang mereka bisa selidiki dan pahami.

Manusia takut untuk bertanya dan menjawab kontradiksi yang tidak bisa mereka buktikan secara empiris. Menggunakan teori gua Plato, Kant mengungkapkan bahwa pengetahuan sesungguhnya berada di luar indra perasa manusia yang terbatas. Semua pengetahuan kita sebenarnya sudah ada tanpa harus melalui pengalaman, justru pengamatan hanya akan mendistorsi atau menguatkan pengetahuan yang sudah kita miliki sebelumnya (6). Kant kemudian membedakan antara penilaian analitis dan sintetis. Penilaian analitis adalah mereka yang predikat dan subjeknya dihubungkan oleh identitas misalnya “semua tubuh itu berat”; sementara ketika predikat dan subjek dihubungkan tanpa identitas dia disebut sebagai penilaian sintetis, misalnya “semua tubuh akan bertumbuh”. Penilaian sintetis bisa diperoleh tanpa pengamatan dan sudah ada secara a priori.

Kant menyatakan bahwa putusan analitis bagi kaum rasionalisme, jenis yang mengkontruksi sebuah sistem pengetahuan dengan aspek universalitas dan keniscayaan, bersifat tautologis. Baginya pengetahuan harus bersifat sintesis yaitu jenis penetahuan yang memperluas pengetahuan mengenai subjek. Putusan a posteriori merupakan putusan yang dimiliki empirisme, tidak lebih dari fakta pengalaman dan tidak memiliki unsur universalitas serta keniscayaan. Pengetahuan filosofis haruslah memiliki unsur universalitas dan keniscayaan, sehingga empirisme menjadi tidak cukup meyakinkan. Ada satu putusan lain yang dijelaskan oleh Kant, yaitu putusan sintetis a priori. Putusan ini lebih mengarah kepada pengetahuan ilmiah yang benar. Karakternya memiliki unsur universalitas dan keniscayaan tanpa menjadi tautologi.  Menurut Kant geometri bersifat sintetis a priori, pendapat yang berbeda dengan para intelek matematika analitik. Perkembangan geometri non-euklidian jelas membantah pernyataan Kant. 

Kant membangun aliran filsafat yang disebut sebagai Kritisisme Kantian. Kritisisme merupakan filsafat yang diawali dengan menyelidiki kemampuan dan batas – batas nalar. Bagi Kant, kritisisme merupakan jawaban terhadap dogmatisme. Dogmatisme menganggap pengetahuan objektif sebagai hal yang terjadi dengan sendirinya. Sebagai aliran filsafat, dogmatisme percaya sepenuhnya pada kemampuan nalar dan mendasarkan pandangannya pada kaidah – kaidah a priori tanpa bertanya apakah nalar memahami hakikatnya sendiri, yakni jangkauan dan batas – batas kemampuannya.

Kebenarannya hanya dapat ditentukan melalui acuan bukti empiris. Seluruh pernyataan analitik bersifat a priori dengan alasan, bahwa kebenaran logika pernyataan tersebut terlepas dari pengalaman yang kita alami. Pernyataan ini tidak membutuhkan bukti empris untuk penilaian kebenarannya. Seluruh pernyataan a posteriori dengan sendirinya pasti bersifat sintetik, karena terdapat informasi tambahan pada subjek yang didapatkan melalui pengalaman. Pada pernyataan di atas, misalkan kita mengamati bola berwarna merah, maka pernyataan sintetik ini menambahkan predikat ‘merah’ yang tidak terdapat pada subjek (didapatkan melalui pengamatan) ke dalam subjek ‘bola’. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, adakah pernyataan sintetik yang bersifat a priori? Kant berpendapat bahwa ada pernyataan sintetik yang bersifat a priori, misalnya pernyataan kausalitas.

Kant membagi pembahasan mengenai putusan sintetis a priori ke dalam tiga bagian, yaitu; Transcendental Aesthetic (Estetika Transendental), Transcendental Anakytic (Analitica Transendental) dan objek penelitian dari Transcendental Dialectic (Dialektika Transendental). Kant berpendapat bahwa studi filsafat menjadi menarik ketika dihadapkan pada a priori sintetik. Dan faktanya, memang kajian filsafat modern selalu berhadapan dengan permasalahan a priori sintetik. Pandangan Kant ini bertentangan dengan aliran empirisme yang ketika itu populer di dunia filsafat. David Hume (1711- 1776), menolak segala bentuk pandangan yang membenarkan a priori sintentik. Namun, bagi Kant penolakan Hume tersebut ironisnya justru merupakan bentuk a priori sintetik (pernyataan semacam ini kemudian digunakan pada beberapa abad kemudian untuk mempertanyakan keabsahan Prinsip Verifikasi penganut postivisme logis, “Bagaimana kita dapat memverifikasi Prinsip Verifikasi?”). Kant berpendapat, bahwa a priori sintetik merupakan sesuatu yang esensial, karena merupakan bagian dari keutuhan nalar kita. A priori sintetik merupakan kondisi niscaya yang diperlukan agar pengetahuan menjadi mungkin. Di sinilah terletak kekhasan pemikiran seorang Immanuel Kant, yang ia sebut sebagai Revolusi Copernicus dalam bangunan filsafat. Kant menempatkan pikiran dalam kerangka aktif proses mengetahui dan a priori sintentik merupakan cara pikiran untuk aktif dalam proses mengetahui.

Estetika Transendental Estetika transendental adalah ilmu dari prinsip sensibilitas (menerima representasi melalui cara di luar indra perasa yang membuat kita terpengaruh oleh sang objek) secara a priori. Untuk menuju estetika murni ini, maka kita harus melepaskan semua indra perasa kita, sehingga kita bisa menemukan intuisi murni tanpa dipengaruhi oleh fenomena objek yang kita teliti. Hanya dengan cara inilah kita bisa menemukan pengetahuan a priori yang murni. Menurut Kant, ada dua bentuk dari hasil indra kita, namun bisa bebas dari mereka, dan bisa kita ketahui secara a priori, yaitu ruang dan waktu.

Bagi Kant, tujuan dari sistem dari penalaran murni adalah untuk membangun filsafat transendental. Filsafat transendental adalah ide akan sebuah ilmu, di mana kritik atas penalaran murni harus menggambarkan seluruh rencananya dari prinsip-prinsip, yang memberi garansi akan kesahihan dan kestabilan semua bagian yang memasuki sistem berpikirnya. Filsafat ini adalah sistem dari semua prinsip penalaran murni, dan Critique of Pure Reason bertugas untuk mengujinya. To the Critique of Pure Reason, therefore, belongs all that constitutes transcendental philosophy; and it is the complete idea of transcendental philosophy, but still not the science itself; because it only proceeds so far with the analysis as is necessary to the power of judging completely of our syntethical knowledge a priori.

 

2.      Ruang dan Waktu

Pengetahuan berawal dari proses sensasi atau penginderaan disebut sensibilitas. Yang artimya sarananya ialah intuisi dan sensibilitas bersifat reseptif. Setelah masuk ke ranah intuisi informasi/pengetahuan akan langsung ditransfer ke pikiran. Pemahaman merupakan kumpulan mental yang berfungsi untuk melakukan konseptualisasi intuisi-intuisi yang diberikan oleh sensibilitas. Pemahaman merupakan kegiatan nalar yang aktif dan imajinatif. Sensibilitas dan pemahaman berfungsi saling melengkapi, keduanya dibutuhkan untuk menjalani hidup dan memahami dunia. Seluruh fenomena selalu berkaitan dengan forma dan materi. Contohnya, ruangan merupakan suatu forma dari materi pengalaman visual, warna dan pencahayaan.

Forma merupakan struktur yang kita gunakan dalam memandang fenomena. Sedangkan konsep merupakan cara bagaimana memahami dan mengkategorikan fenomena guna mendapatkan pengetahuan. Perbedaan keduanya, forma merupakan bagian dari intuisi sedangkan materi dapat dipelajari dan diterapkan oleh intuisi untuk memahami forma. Salah satu contoh forma adalah, ruang dan waktu.

Ruang dan waktu merupakan forma yang kita gunakan dalam melihat dunia. Ruang dan waktu juga menjadi cara seorang manusia menjalani hidup di dunia. Bagaimana mungkin dapat dipisahkan antara pengalaman dengan ruang dan waktu? Tidak aseorang pun dapat memisahkannya. Ruang dan waktu tidak bersifat empiris dan konseptual. Keduanya tidak termasuk ke dalam materi/konsep, sehingga tidak dapat dipelajari. Suatu konsep berkorespondensi dengan pengalaman menjadi suatu peradaban tertentu akan mengkonseptualisasi dunia berbeda dengan yang lainnya. Ruang dan waktu tidak perlu dibuktikan karena setiap manusia memiliki pengalaman yang berkorespondensi dengan kedua hal tersebut.

Ruang dan waktu memiliki objektivitas empiris untuk memahami dunia secara objektif dan keduanya juga memiliki sisi subjektivitas transcendental karena keduanya merupakan forma. Waktu merupakan kontinutas dan keteraturan pengalaman dan ruang bersifat tidak diskursif, hanya terdapat satu ruang, sesuatu yang berukuran tak teratas. Dalam ilmu matematika, geometri adalah suatu bahasan yang membahas tentang ruang dan hubungan di dalamnya.

Ruang dan waktu merupakan kondisi mutlak yang diperlukan untuk kita merasakan pengalaman. Dengan demikian, keduanya tidak perlu dibuktikan karena berada di luar fakta sederhana bahwa kita memiliki pengalaman. Kant berpendapat bahwa ruang dan waktu itu nyata secara empiris. Namun dengan menggunakan metode pemeriksaan transendental kita juga mengetahui bahwa ruang dan waktu tidak merepresentasikan sifat – sifat das Ding an sich. Sebaliknya, keduanya merupakan bagian dari cara kita memandang dunia. Ini merupakan salah satu contoh perbedaan yang digarisbawahi Kant tentang objektvitas empiris dan subjektivitas transendental. Dan juga menunjukkan kesatuan kedua konsep tersebut:

-          Ruang dan waktu memiliki objektivitas empiris, karena keduanya merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mengalami dunia objektif.

-          Ruang dan waktu juga memiliki sisi subjektivitas transendental karena keduanya merupakan forma, yang mana melalui keduanya pikiran dapat memahami dunia.

Waktu merupakan kontinutas dan keteraturan pengalaman. Ruang bersifat tidak diskursif, hanya terdapat satu ruang, sesuatu yang berukuran tak terbatas. Geometri merupakan suatu studi tentang ruang dan hubungan dalam ruang. Dengan demikian, geometri bersifat a priori sintetik. Pandangan Kant ini berbeda dengan kebanyakan pandangan mazhab pemikiran matematika analitik yang menitikberatkan seluruh gagasan matematis pada logika. Mungkin kita dapat membantah pendapat Kant, bahwa ruang tidak dengan sendirinya memberikan bentuk (forma).

Dengan perkembangan geometri non– euklidian kita dapat melakukan konseptualisasi ruang dengan cara berbeda dari yang dilakukan oleh Kant yang pandangannya terhadap geometri terbatas pada ruang euklidian. Akan tetapi, banyak filsuf penganut aliran filsafat Kantian yang menolak argumen itu dengan alasan bahwa terdapat cara dasar manusia memandang ruang yang tidak terpengaruh oleh perkembangan geometri modern. Dengan demikian, menurut mereka geometri non–euklidian merupakan perangkat peradaban yang kita gunakan untuk memperbaiki pemahaman kita tentang dunia pada tingkatan objektif, bukan pada tingkatan pengalaman. Forma pengalaman tentang ruang masih merupakan forma ruang spasial Kantian yang dikenal oleh seluruh manusia.

Ada beberapa pengertian yang diberikan oleh Kant mengenai ruang. Konsep ruang datang kepada kita dengan sendirinya tanpa bantuan indra peraba dan pengalaman. Argumen yang dibangun Kant adalah bahwa ruang selalu ada, dan hanya ada satu untuk semua orang meskipun bentuknya bisa berubah. Kita semua ada dalam ruang yang sama yang jumlahnya tak terbatas. Ruang adalah intuisi murni dan bisa berdiri pada dirinya sendiri meskipun tidak memiliki ukuran atau definisi empiris. Geometri, atau ilmu ukur ruang dalam matematika, adalah ilmu yang membantu kita mengukur ruang. Namun bagaimana ilmu ini bisa kita teliti tanpa lebih dulu memiliki sejenis paham mengenai ruang? Kita tidak akan bisa mengukur ruang, dan mengetahui bahwa ukuran yang kita pakai adalah benar, tanpa pengertian lebih dulu bahwa ruang itu ada.

            Pemahaman kita akan ruang tidak dipengaruhi oleh fenomena dari indra peraba kita, dan ruang akan tetap ada meskipun indra peraba kita tidak ada lagi. Tanpa ruang, kita tidak akan ada, dan kita sepertinya sudah memiliki ide ini. Semua sensor yang kita miliki tidak membuat kita menjadi tahu tentang apa ruang itu, namun hanya memperjelasnya. Demikian juga dengan konsep kita tentang waktu. Waktu bukanlah konsep empiris yang berhubungan dengan semua indra peraba kita. Waktu, yang juga tak terhingga seperti ruang, hanya bisa kita ketahui secara a priori. Kant berpendapat bahwa kita semua terikat di waktu yang sama. Semua pengetahuan melalui penelitian dan pengalaman terhadap objek membantu kita untuk memberi makna terhadap waktu. Sesuatu yang tidak terikat pada ruang tertentu tetap masih harus terbatas pada waktu. Tanpa pemikiran kita, waktu akan tetap ada dan mengatur kita. Waktu dan ruang mengikat kita dan semua pengetahuan empiris kita. Kedua hal ini adalah bentuk paling murni, dan tidak ada lagi di luar kedua hal ini.

Pengertian kita tentang ruang dan waktu datang kepada kita secara a priori tanpa bantuan pengalaman. Pengalaman hanya menguatkan pengetahuan yang sudah ada itu. Karena itu, ruang dan waktu adalah kenyataan transenden yang paling murni. Tugas pengetahuan empiris adalah untuk memberi kita makna akan ruang dan waktu yang kita diami. Jika ruang dan waktu adalah ciptaan pikiran kita melalui pengalaman, maka seharusnya kita bisa berimajinasi mengenai apa yang ada di balik mereka. Kita tidak bisa memikirkannya kalau kita dibatasi oleh pikiran empiris kita. Kant berpendapat bahwa estetika trasenden hanya memiliki ruang dan waktu sebagai konsep yang melampaui indra peraba kita yang membuktikan bahwa pengetahuan a priori itu melampaui pengetahuan empiris manusia. Lebih jauh, Kant bahkan mengatakan bahwa pengetahuan empiris pun sebenarnya bukan pengetahuan murni, karena dia adalah fenomena yang datang dari indra peraba kita. Dengan indra, kita hanya bisa mengetahui sebatas yang kita lihat dan yang ada, padahal pengetahuan itu lebih dari sekedar apa yang ada pada sensor peraba kita. Peran dari nalar murni adalah untuk mengetahui batasan ini dan juga batasan pada dirinya sendiri.

Critique of Pure Reason juga menunjukkan bahwa nalar juga memiliki batasan, dan tugas pengetahuan empiris adalah membuktikan dan menjelaskan pengetahuan kita itu agar dia tidak jatuh menjadi dogma semata. Pada saat yang sama Kant menjelaskan batasan dunia empiris dan juga batasan dunia metafisika. Kant berhasil membedakan pengetahuan sintetis dan a priori dari analitis dan a posteriori. Dia memberi 4 definisi yang berbeda. Karena hanya kebenaran a priori yang bersifat universal, seperti dalam ruang dan waktu, maka kebenaran sejati pastilah a priori. Pengertian semacam ini memberi argumen terhadap kebenaran a priori. Karena keterbatasan indra kita, maka tugas pengetahuan empiris adalah menjelaskan keterbatasan metafisika kita. Kedua hal ini sebenarnya saling terkait. Menurut saya, Kant sebenarnya tidak pernah ingin menolak pengetahuan yang kita peroleh melalui pengamatan empiris, dia hanya ingin menunjukkan bahwa pengetahuan empiris saja tidak cukup untuk sampai kepada pengetahuan murni.

Kenyataan adalah gabungan dari kedua pengetahuan a priori dan a posteriori, antara sintetis dan analitis. Kant sebenarnya sudah sangat maju dalam pemikirannya, bahwa menurutnya, pikiran kita tidak hanya menerima objek yang ada di sekitar kita, tetapi pikiran kita justru aktif memberi makna terhadapnya. Pengertian yang sesungguhnya dari suatu objek bisa terdistorsi oleh indra perasa kita sehingga kita tidak akan bisa sampai kepada pengertian yang sesungguhnya melalui pengamatan saja. Pengetahuan empiris adalah seperti pelengkap ke dalam dunia pengetahuan a priori yang sudah lebih dulu ada. Melalui analisisnya, Kant berhasil menunjukkan bahwa prinsip dasar dalam matematika justru berasal dari pengetahuan a priori. Namun pengetahuan a priori ini tidak bisa murni kita terima seperti yang kita harapkan. Instrumen perasa dan nalar kita yang terbatas membuat kita membutuhkan keduanya penguji pengetahuan a priori dan analitis.

Ada yang mengkritik Kant dengan mengatakan bahwa Kant tidak pernah menjelaskan matematika dari sisi empiris. Ketika Kant menjelaskan matematika dari nalar, maka dia akan menemukannya secara a priori, sementara matematika adalah pengetahuan yang membutuhkan pembenaran secara analitis, tanpanya kita tidak tahu apakah pengetahuan a priori itu benar atau tidak. Salah satu kritik yang hendak saya ajukan adalah prinsip Kant yang memandang ruang dan waktu sebagai tak terhingga dan hanya satu. Berbagai teori baru dalam dunia fisika sepertinya menunjukkan bahwa di balik ruang yang kita tempati sekarang, ada ruang lain yang juga berjalan pada waktu bersamaan. Teori ini tetap masih harus dibuktikan. Ada juga teori lain yang berargumen bahwa pada waktu yang sama, ada waktu lain yang berjalan beriringan, dan ada jumlah waktu yang tak terbatas yang berjalan beriringan tanpa memengaruhi satu dengan yang lain. Hal ini juga masih harus terus diuji melalui penemuan baru di bidang sains.

3.      Pengetahuan Murni dan Empiris

Suatu konsep disebut sebagai pengetahuan murni, jika konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan tidak terjadi secara langsung pada kenyataan. Pada tataran inilah pengetahuan transendental berada. Kant menuliskan, “Seluruh pengetahuan berawal dari pengalaman, akan tetapi hal ini tidak berarti, bahwa seluruh pengetahuan berasal secara langsung dari pengalaman”. Dalam hal ini, Kant secara tersirat menyinggung tentang pengetahuan transendental. Pengetahuan transendental bukanlah sesuatu yang dialami itu sendiri. Pengetahuan transendental tidak dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pengalaman. Jadi, seperti dalam deduksi transendental yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, tanpa kebenaran pada premis 2, kita tidak dapat menarik kesimpulan tentang premis 3. Kant juga berpendapat, tanpa kemampuan akal budi untuk mengorganisasikan dan mengkonseptualisasikan pengalaman, kita tidak akan dapat merasakan pengalaman itu sendiri. Melalui epistemologinya, Kant mengakui argumen filsuf empiris seperti Hume, yang berpendapat bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman. Di sisi lain Kant juga mengakui pemikiran rasionalis seperti Leibniz yang berpendapat bahwa ide-ide dan pemikiran merupakan esensi dari pengetahuan.

Epistemologi Kant hendak mensintesiskan dua kubu pemikiran yang bertentangan waktu itu. Kant memunculkan beberapa istilah baru guna mendukung filsafatnya, antara lain: Sensibilitas, yang berarti sarana kita untuk mendapatkan intuisi. Sensibilitas bersifat reseptif. Melaluinya intuisi langsung ditransfer ke pikiran. Pemahaman, merupakan fakultas mental yang berfungsi untuk melakukan konseptualisasi intuisi-intuisi yang diberikan oleh sensibilitas. Pemahaman merupakan kegiatan nalar yang aktif dan imajinatif. Baik sensibilitas dan pemahaman berfungsi saling melengkapi, keduanya dibutuhkan untuk mengalami dan memahami dunia. Seluruh fenomena yang kita alami selalu berkaitan dengan materi dan forma. Materi merupakan sensasi sekilas. Sedangkan forma merupakan cara kita memahami sensasi tersebut. Sebagai contoh, ruangan merupakan suatu forma dari materi pengalaman visual, warna dan pencahayaan. Kant membedakan antara forma dan konsep. Forma merupakan struktur yang kita gunakan dalam memandang fenomena. Sedangkan konsep merupakan cara bagaimana kita memahami dan mengkategorikan fenomena guna mendapatkan pengetahuan. Forma merupakan bagian intuisi. Sementara konsep dapat dipelajari dan diterapkan oleh intuisi untuk memahami forma.

Kant bermaksud untuk membela sains. Kant menolak keraguan yang terjadi sebelumnya, yaitu keraguan pada sains (baca: skeptisisme Hume) dengan mengatakan bahwa teori ilmu pengetahuan (sains) dapat dibenarkan apabila mempunyai dasar a priori, dan cara memperolehnya melalui rasio murni (pure reason). Rasio disini berperan aktif dalam mengelola sensasi masuk ke persepsi lalu menjadi konsepsi (baca: sturktur mental inheren). Kritik yang dianggap usaha raksasa dari Kant adalah upaya mendamaikan rasionalisme (yang beranggapan bahwa pengetahuan (pengenalan) dicapai secara apriori, lepas dari pengalaman) dan empirisisme (yang menekankan pada aposteriori). Kant berupaya menjelaskan bahwa pengetahuan manusia merupakan paduan atau sintesa antara unsuunsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori. Sedangkan letak radikalitas Kant dalam filsafatnya adalah pembalikan pengertian tentang pengetahuan yang dulu dianggap bahwa pengetahuan dengan mengandaikan bahwa si subyek mengarahkan diri pada obyek, sedangkan yang betul menurut Kant adalah obyek yang mengarahkan diri pada si subyek. Dalam hal ini, manusia mempunyai peran signifikan untuk menangkap dan memahami realitas (obyek pengetahuan) itu sendiri. Karena itu, dapat dikatakan bahwa realitas itu adalah yang sudah dipermak dan dikayasa oleh pengertian kita.

Selanjutnya, penulis perlu mengurai pengenalan manusia dalam rangka proses mencapai ilmu pengetahuan yang dibagi menjadi tiga bagian;

-          Pengenalan taraf indrawi.

Kant mengatakan bahwa pengenalan adalah sintesis antara unsur apriori dengan unsur aposteriori. Unsur apriori memaikan peranan bentuk dan unsur aposteriori memainkan peranan materi. Menurut Kant, unsur apriori sudah ada pada taraf indrawi. Oleh karena itu, pengenalan selalu ada dua bentuk pengenalan apriori, yaitu ruang dan waktu. Jadi, ruang tidak merupakan ruang kosong, di mana benada-benda diletakkan; ruang pada dirinya sendiri. Dan waktu tidak merupakan arus tetap, di mana pengindraan-pengindraan bisa ditempatkan. Kedua-duanya merupakan bentuk apriori dari pengenalan indrawi. Karena itu, kedua-duanya berakar pada struktur subyek sendiri.

-          Pengenalan pada taraf akal budi

Pengenalan pada taraf akal budi (verstand) yang dibedakan dengan rasio (vernunft). Tugas akal budi adalah menciptakan orde antara data-data indrawi. Dengan kata lain, akal budi adalah yang mengucapkan putusan-putusan. Pengenalan akal budi merupakan sintesis antara bentuk (form) dan materi. Materi adalah data-data indrawi dan betuk adalah apriori yang terdapat pada akal budi. Bentuk apriori ini oleh Kant disebutkategori yang terbagi menjadi 12 sebagai berikut: Pertama, Kuantitas yang terbagi lagi menjadi tiga; kesadaran kesatuan, kesadaran pluralitas, kesadaran totalitas. Kedua, Kualitas dibagi lagi menjadi tiga bagian; realitas, negasi dan pembatasan. Ketiga, Relasi dibagi menjadi tiga; substansiaksidensi, sebab-akibat dan komunitas. Keempat, Modalitas yang dibaginya menjadi tiga; kemungkinan dan kemustahilan, eksistensi dan non-eksistensi, keniscayaan dan kontigensi. Salah satu contoh antara substansi dan kausalitas sebagai berikut; kita membentuk putusan bahwa A menyebabkan B, maka sahnya putusan itu tidak mesti langsung dari realitas, melainkan kita harus memikirkan hubungan kausalitas antara A dan B. Dengan penjelasan bahwa ketika kita misalnya melihat sesuatu dengan memakai kaca mata hitam, maka kita akan melihat semua obyek yang kita lihat hitam, tapi hitamnya obyek yang kita lihat, tidak berarti bahwa obyek yang kita lihat itu adalah hitam. Jadi, hitamnya obyek yang kita lihat itu hanyalah bentuk keniscayaan bagi kita sendiri karena kita melihatnya memakai kaca mata hitam. Karena itu, Kant meskipun menegaskan kepastian dan keabsolutan sains, ia tetap menilai bahwa sains masih mempunyai keterbatasan dan kerelativan. Terbatas pada objek empiris, relatif sesuai dengan cara kita melihat dan memahaminya.

-          Pengenalan taraf rasio

Sedang tugas rasio adalah menarik kesimpulan dari putusan-putusan. Dengan kata lain, rasio mengadakan argumentasiargumentasi. Seperti akal budi menggabungkan data-data inderawi dengan mengadakan putusan-putusan, demikian pun rasio menggabungkan putusanputusan. Kant memperlihatkan bahwa rasio membentuk argumentasi-argumentasi dengan dipimpin oleh tiga ide, yaitu jiwa, dunia dan Allah. Dengan ide inilah Kant ingin mencapai kesatuan terakhir dalam bidang jiwa, dunia dan Allah. Ketiga ide itu mengatur pengenalan kita, tapi tidak temasuk pengalaman. Karena kategori hanya sampai pada apa yang dapat dialami.

Dengan pembedaan antara rasio murni dengan rasio praktis (yang akan dijelaskan dibawah ini), maka Kant pada dasarnya ingin mengatakan bahwa yang mampu menembus pengetahuan noumena - seperti obyek keyakinan- adalah rasio praktis (practical reason) yang termuat dalam buku keduanya, yaitu The Critique of Practical Reason. Sampai disini, dapat dipahami bahwa Kant adalah termasuk aliran filsafat dualisme, karena telah membedakan antara dunia fenomena dan dunia hakiki (noumena), meskipun Kant meletakkan fenomena sebagai bagian dari noumena.

Kant mengatakan bahwa moralitas adalah hal yang menyangkut baik dan buruk, tetapi bukan sembarang yang baik dan buruk, melainkan, dalam bahasa Kant, apa yang baik pada dirinya sendiri tanpa pembatasan. Sedang kebaikan yang tanpa pembatasan adalah kehendak baik. Berbeda dengan hal itu, adalah bakat rohani, ciri perangai dan sifat-sifat watak seseorang hanya akan mempunyai nilai moral apabila diabdikan pada kehendak baik itu; kehendak yang menentukan apakah watak orang dipakai dengan baik atau buruk. Syarat kebaikan pelbagai sifat manusia adalah kehendaknya yang baik.

Namun demikian, bagaimana kehendak baik menyatakan diri? Kant menjawabnya dengan mengatakan bahwa kehendak yang mau melakukan kewajiban. Sedang dorongan untuk melakukan kewajiban terdiri tiga kemungkinan; pertama, ia dapat memenuhi karena menguntungkan. Misalnya, ia mendapat predikat baik. Kedua, ia melakukan karena dorongan langsung dari hati nuraninya. Misalnya, ia merasa kasihan dan tidak tega. Ketiga, ia memenuhi kewajiban demi kewajiban itu sendiri. Menurut Kant, hanya kehendak yang ketiga inilah kehendak yang betul-betul moral. Untuk itu, Kant mengukur tindakan moral seseorang bukan pada hasil dan hasil yang dimaksud, tetapi pada si pelaku, apakah kehendaknya ditentukan semata-mata oleh kenyataan bahwa perbuatan itu merupakan kewajibannya. Selanjutnya, apabila kewajiban merupakan paham apriori akal budi murni-artinya, kewajiban itu tidak ditentukan oleh realitas empiris seperti kebutuhan, tujuan dan nilai- lalu bagaimana mengetahui tindakan moral itu? Kant menjawab bahwa kriteria itu adalah Imperatif Kategoris. Imperatif kategoris adalah suatu perintah mutlak dan tanpa syarat. Pertama, dia berupa perintah, kedua bahwa perintah itu kategoris. Suatu perintah yang mengungkapkan suatu keharusan (sollen). Dalam hal ini ada tiga perintah: pertama, imperatif hipotetis praktis; suatu perintah dari luar yang mempunyai kepastian didapat apa yang diharapkan, misalnya jika ingin lulus ujian, kamu harus belajar rajin. Imperatif hipotetis problematis adalah tindakan moral yang mengandung kemungkinan untuk mendapatkannya, seperti perintah dokter pada pasien untuk minum obat. Sedang keputusan yang diambil adalah keputusan analitis; keputusan yang menuntut semua orang pada pilihan sarana tertentu untuk mencapai tujuan. Perbedaannya, imperatif hipotetis praktis adalah tujuannya pasti dinginkan semua orang dan tindakannya disebut tindakan kebijaksanaan, sedang imperatif hipotetis problematis adalah tujuannya hanya apa yang mungkin diinginkan setiap orang, dan tindakannya disebut tindakan kecakapan. Dua imperatif itu disebut imperatif hipotetis, yaitu imperatif atau keharusan bersyarat. Sedangkan bentuk imperatif kategoris adalah “perintah bertindak secara moral!” Itulah perintah atau kewajiban mutlak satu-satunya. Kita dapat mehami bahwa (filsafat) moral Kant tidak bergantung pada maksud baik, tujuan dan kondisi apapun, tapi berlaku di mana saja, tanpa pembatasan apapun.

Namun demikian, bagaimana kita bertindak secara moral? Kant merumuskan imperatif kategoris sebagai berikut: “bertindaklah semata-mata menurut prinsip atau maksim yang dapat sekaligus kau kehendaki menjadi hukum universal”. Misalnya, janganlah kamu berbuat bohong. Perintah ini berlaku bagi semua orang tanpa pembatasan apapun. Sedangkan keputusan imperatif kategoris adalah keputusan sintetis.

Kant mengatakan bahwa penilaian terhadap suatu tindakan moral itu harus didasarkan pada ukuran otonomi individu yang melaksanakan, tanpa mempertimbangkan konteks tindakan dan tujuannya. Oleh karena itu, konsep moral Kant disebut deontologi; suatu teori tentang kewajiban melakukan sesuatu secara niscaya, tanpa harus melihat konsekwensi-konsekwensi yang akan diperolehnya. Karena itu, tindakan yang tidak otonom (heteronom) adalah tindakan yang bukan moral karena tidak bebas. Menurut Kant, otonomi akan mengantarkan manusia pada kebebasan. Sedang kebebasan adalah suatu kenyataan dalam kesadaran manusia yang adanya tidak dapat disangkal. Untuk itu, pembuktian moralitas Kant haruslah melalui kesadaran hati nurani (atau rasio praktis).

Kebebasan (kehendak) merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal karena terimplikasi langsung dalam kesadaran moral. Kenyataan semacam itu oleh Kant disebut postulat. Postulat itu sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, tetapi kenyataannya tidak dapat disangkal karena suatu realitas tidak mungkin kalau postulat itu tidak nyata-nyata ada. Kenyataan kesadaran moral mengimplikasikan bahwa kita betul-betul berkehendak bebas. Artinya, kita dapat mengambil sikap dan tindakan lepas dari segala macam dorongan, rangsangan, emosi, dan sebagainya.

Selain kebebasan itu, Kant juga menambahkan dua postulat lagi yaitu, Pertama adalah imortalitas jiwa. Menurut Kant, Jiwa haruslah imortal agar supaya kita dapat mencapai Kebaikan Yang Tertinggi yang tak dapat dicapai di dunia fana ini. Kedua adalah Tuhan. Menurut Kant, Tuhan adalah kebaikan tertinggi, karena itu mempercayainya adalah hal yang mutlak, sebab Dia-lah sebagai hakim yang akan menentukan dan menilai semua amal perbuatan baik dan buruk kita. Kant menyebut fakta bahwa Ide Kebaikan Tertinggi adalah obyek dan tujuan final rasio praktis. Karena itu, hukum moral Kant secara tidak langsung telah mengacu pada agama, yaitu kepada pengakuan seluruh kewajiban perintah Tuhan. Sedang letak pentingnya postulat ini adalah, ketika kita dihadapkan keputusasaan moral. Misalnya, kita sering melihat orang yang jahat mendapatkan kebahagiaan, sementara kita sendiri yang melakukan kebaikan tidak mendapatkan kebahagiaan. Untuk itu, tindakan moral kita akan bermakna, kalau ada kebebasan, imortalitas jiwa dan Tuhan.

Rasionalisme memulai asumsi bahwa pikiran manusia dianugerahi dengan ide-ide bawaan untuk mengatasi suatu kesulitan. Dengan kata lain, logika memiliki peran besar dalam mengatasi kesulitan yang dialami manusia. Deduksi dari ide-ide bawaan ini dilengkapi dengan universalitas dan sesuatu yang dibutuhkan. Universalitas yang dimaksudkan ialah ide-ide bawaan yang dimiliki disartikan sebagai sesuatu yang bersifat umum dan sesuatu yang dibutuhkan yaitu kualitas yang harus dimiliki semua ilmiah dan filsafat. Keabsahan dan validitas pengetahuan seperti ini tidak dapat ditunjukkan dengan kaum rasionalisme. Bahkan muncul keraguan adanya Tuhan bagi kaum rasionalisme.

Selanjutnya, muncul paham empirisme yang meyakini kebenaran terhadap hal yang hanya dapat diamati oleh panca indera. Cara impresi inderawi tidak dapat menunjukkan aspek universalitas dan keniscayaan pengetahuan tersebut. Sebelumnya David Hume juga pernah mengkritisi terhadap kesulitan yang dihadapi empirisme. Hume mengemukakan unsur psikologis yang kaun yang disebut kebiasaan mengasosiasi. Yaitu menghubungkan impresi yang satu dengan imperi yang lainnya, kemudian memberikan unsur universalitas dan keniscayaan. Akan tetapi solusi yang ditawarkan Hume seakan memaksakan, sehingga gagasan tersebut tampak jelas tidak memuaskan para intelek di masa itu.

Berdasarkan hal itu, Kant memikirkan solusi terbaik untuk memahami realitas. Dua petanyaan penting yang tertuang dalam buku karyanya Critique, yaitu what can I know? dan what should I do?. Pertanyaan pertama ialah berhubungan pada teori ilmu pengetahuan dan pertanyaan kedua berkaitan dengan masalah etika. Solusi yang ditawarkan Kant merupakan suatu solusi yang konklusif (memiliki kesimpulan). Dan ia terus menguji dengan sungguh-sungguh rasionalisme dan emperisme, untuk menemukan kelemahan-kelemahan keduanya dan juga mempertahankan hal esensial yang terkandung.

Perkembangan para filsuf mulai dari rasionalisme, empiris dan kritik Immanuel Kant terhadap keduanya, merupakan wujud nyata bagi generasi mendatang bahwa pengetahuan akan terus berkembang dengan tidak meningglakan jejak pengetahuan yang lalu. Namun selaku seorang yang mempunyai logika spiritual yang mendalam, tetap saja harus membatasi pemikiran lebih dalam tentang Dzat Allah Tuhan Sang Pencipta. Bahkan untuk membayangkan-Nya saja kapasitas manusia tidak akan mampu. Keterbatasan dan ketidaksempurnaan manusia dapat menjadi kebahagian tersendiri bagi setiap individu. Karena sekiranya manusia itu tidak terbatas mungkin ia tidak akan bisa terlelap tidur setiap malamnya. Maka oleh karena itu perkembangan ilmu pengetahuan harus terus dipelari oleh para intelektual di masa mendatang, dengan cara membaca dan membaca. Tanpa membaca tidak akan ada kebenaran ilmu pengetahuan yang akan diperoleh manusia. Intuisi seseorang akan berpengaruh dari pengalaman yang dialami di dunia.