1.
A Priori dan A
Posteriori
Penulis mencoba
memahami lebih dalam makna dari kata-kata dengan makna yang tersirat pada karya
Immanuel Kant berjudul “Critique of Pure
Reason”.
Buku ini membahas gagasan Kant tentang pengetahuan.
Beberapa gaya penulisannya terkesan sangat kaku dan sulit dimengerti. Gagasan
yang disampaikan eksak dan sangat hati-hati. Meskipun demikian, gagasan-gagasan
yang ada sangat jelas dan nyata maknanya.
Pemikiran
Immanuel Kant telah menyatukan dua paham yang saling bertentangan antara akal
dan pancaindera). Kritisisme yang telah dipelopori oleh Immanuel Kant berusaha
menyatukan keduanya, yaitu rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme yang
dicetuskan oleh Rene Descartes dan beberap tokoh lainnya telah gagal membangun
transendensi Tuhan atas alam dan empirisme juga gagal membuktikan eksistensi
alam yang diyakini sebagai yang berbeda dari pikiran. Rasionalisme lambat laun
menjadi panteisme implisit ala Descartes dan empirisme menjadi skeptisisme. Kegagalan
rasionalisme dan empirisme adalah konsekuensi logis dari fenomenalisme yang
sebenarnya. Lalu, muncullah pemikiran I. Kant menyatukan rasionalisme dan
empirisme dalam semacam fenomenalisme baru.
Pada
pendahuluan, Kant bahkan telah menuliskan banyak pemikiran baru yang tidak
dipikirkan oleh orang-orang yang hidup semasa dengannya. Pembahasan Kant dalam Critique of Pure Reason salah satu
bagian penting adalah konsep analisis transendental. Menurut pendapatnya, jiwa
manusia merupakan actor yang mengkontruksi dunianya sendiri. Melalui a priori
dormal, jiwa manusia mengatur data kasar pengalaman (pengindraan) dan kemudian
membangun ilmu-ilmu matematika dan fisika. Melalui kehendak yang otonom jiwa
membangun moralitas dan melalui perasaan manusia menempatkan realitas dalam
hubungannya dengan tujuan tertentu yang hendak dicapai serta memahami semuanya
secara inheren sebagai yang memiliki tendensi kepada kesatuan.
Syarat setiap
putusan sintetis a priori adalah harus memiliki forma (form) dan materi (matter).
Form diberikan oleh intelek, independen dari semua pengalaman, a priori,
menandakan fungsi, cara dan hokum mengetahui dan bertindak yang eksistensinya
mendahului seluruh pengelaman. Dan materi ialah sensasi subjektif yang kita
terima dari dunia luar. Bagi Kant sintetis a priori merupakan sesuatu yang
esensial karena merupakn bagian dari keutuhan nalar manusia. Sintetis a priori
juga merupakan kondisi niscaya yang diperlukan agar pengetahuan menjadi
mungkin. Kekhasan pemikiran Immanuel Kant terdapat pada pemikiran ini, yang
disebut sebagai Revolusi Copernicus.
Menggunakan
kedua unsur yang menjadi syarat putusan sintetis a priori tersebut, menjadi
manfaat dari dipersatukan rasionalisme dan empirisme dalam putusan yang sama:
forma mewakili unsur universal dan niscaya, dan materi mewakili data empiris.
Pengtahuan diperoleh melalui putusan a priori Kant adalah jenis perngetahuan
yang memiliki nilai fenomenal dan tidak memeberikan pemahaman yang valid
terhadap objek, sebagai pengetahuan yang ada di alam saja tetapi hanya sejauh
itu yang dipikirkan oleh subjek.
Menurutnya, a
priori adalah “is absolutely so of all experience, pure knowledge.” Sedangkan a
posteriori berasal dari pengamatan dan pengalaman, dan berasal dari metode
induksi. Kebenaran a priori dibagi dua, yaitu judgment a priori, yaitu sebuah
kebenaran apabila kita memiliki sebuah proposisi yang mengandung ide
kepentingan dalam konsepsinya; sementara itu absolut a priori adalah kebenaran
yang tidak datang dari proposisi apapun. Kant berusaha membela pendapatnya ini
dari Hume, yang memang beranggapan bahwa semua pengetahuan berasal dari a
posteriori. Argument Kant adalah bahwa ada pengetahuan yang memang sudah ada a
priori tanpa kita perlu mengamati untuk mengetahui bahwa pengetahuan itu adalah
benar. Pertanyaan selanjutnya adalah, Bagaimana pengetahuan kita bisa sampai
kepada pengertian a priori ini, dan sejauh apa kebenaran yang dimilikinya? Kant
menganggap bahwa pengetahuan a posteriori adalah keinginan manusia untuk merasa
nyaman dalam pengetahuan yang mereka bisa selidiki dan pahami.
Manusia takut
untuk bertanya dan menjawab kontradiksi yang tidak bisa mereka buktikan secara
empiris. Menggunakan teori gua Plato, Kant mengungkapkan bahwa pengetahuan
sesungguhnya berada di luar indra perasa manusia yang terbatas. Semua
pengetahuan kita sebenarnya sudah ada tanpa harus melalui pengalaman, justru
pengamatan hanya akan mendistorsi atau menguatkan pengetahuan yang sudah kita
miliki sebelumnya (6). Kant kemudian membedakan antara penilaian analitis dan
sintetis. Penilaian analitis adalah mereka yang predikat dan subjeknya
dihubungkan oleh identitas misalnya “semua tubuh itu berat”; sementara ketika
predikat dan subjek dihubungkan tanpa identitas dia disebut sebagai penilaian
sintetis, misalnya “semua tubuh akan bertumbuh”. Penilaian sintetis bisa
diperoleh tanpa pengamatan dan sudah ada secara a priori.
Kant menyatakan
bahwa putusan analitis bagi kaum rasionalisme, jenis yang mengkontruksi sebuah
sistem pengetahuan dengan aspek universalitas dan keniscayaan, bersifat
tautologis. Baginya pengetahuan harus bersifat sintesis yaitu jenis penetahuan
yang memperluas pengetahuan mengenai subjek. Putusan a posteriori merupakan
putusan yang dimiliki empirisme, tidak lebih dari fakta pengalaman dan tidak
memiliki unsur universalitas serta keniscayaan. Pengetahuan filosofis haruslah
memiliki unsur universalitas dan keniscayaan, sehingga empirisme menjadi tidak
cukup meyakinkan. Ada satu putusan lain yang dijelaskan oleh Kant, yaitu
putusan sintetis a priori. Putusan ini lebih mengarah kepada pengetahuan ilmiah
yang benar. Karakternya memiliki unsur universalitas dan keniscayaan tanpa
menjadi tautologi. Menurut Kant geometri
bersifat sintetis a priori, pendapat yang berbeda dengan para intelek
matematika analitik. Perkembangan geometri non-euklidian jelas membantah
pernyataan Kant.
Kant
membangun aliran filsafat yang disebut sebagai
Kritisisme Kantian. Kritisisme merupakan filsafat yang diawali dengan
menyelidiki kemampuan dan batas – batas nalar. Bagi Kant, kritisisme merupakan
jawaban terhadap dogmatisme. Dogmatisme menganggap pengetahuan objektif sebagai
hal yang terjadi dengan sendirinya.
Sebagai
aliran filsafat, dogmatisme
percaya sepenuhnya pada kemampuan nalar dan mendasarkan pandangannya pada
kaidah – kaidah a priori tanpa bertanya apakah nalar memahami hakikatnya
sendiri, yakni jangkauan dan batas – batas kemampuannya.
Kebenarannya
hanya dapat ditentukan melalui acuan bukti empiris. Seluruh pernyataan analitik
bersifat a priori dengan alasan, bahwa kebenaran logika pernyataan tersebut
terlepas dari pengalaman yang kita alami. Pernyataan ini tidak membutuhkan
bukti empris untuk penilaian kebenarannya. Seluruh pernyataan a posteriori
dengan sendirinya pasti bersifat sintetik, karena terdapat informasi tambahan
pada subjek yang didapatkan melalui pengalaman. Pada pernyataan di atas,
misalkan kita mengamati bola berwarna merah, maka pernyataan sintetik ini
menambahkan predikat ‘merah’ yang tidak terdapat pada subjek (didapatkan
melalui pengamatan) ke dalam subjek ‘bola’. Kemudian yang menjadi pertanyaan
adalah, adakah pernyataan sintetik yang bersifat a priori? Kant berpendapat
bahwa ada pernyataan sintetik yang bersifat a priori, misalnya pernyataan
kausalitas.
Kant membagi
pembahasan mengenai putusan sintetis a priori ke dalam tiga bagian, yaitu; Transcendental Aesthetic (Estetika
Transendental), Transcendental Anakytic (Analitica
Transendental) dan objek penelitian
dari Transcendental Dialectic (Dialektika
Transendental). Kant
berpendapat bahwa studi filsafat menjadi menarik ketika dihadapkan pada a priori sintetik. Dan
faktanya, memang kajian filsafat modern selalu berhadapan dengan permasalahan a
priori sintetik. Pandangan Kant ini bertentangan dengan aliran empirisme yang
ketika itu populer di dunia filsafat. David Hume (1711- 1776), menolak segala
bentuk pandangan yang membenarkan a priori sintentik. Namun, bagi Kant
penolakan Hume tersebut ironisnya justru merupakan bentuk a priori sintetik
(pernyataan semacam ini kemudian digunakan pada beberapa abad kemudian untuk
mempertanyakan keabsahan Prinsip Verifikasi penganut postivisme logis,
“Bagaimana kita dapat memverifikasi Prinsip Verifikasi?”). Kant berpendapat,
bahwa a priori sintetik merupakan sesuatu yang esensial, karena merupakan
bagian dari keutuhan nalar kita. A priori sintetik merupakan kondisi niscaya
yang diperlukan agar pengetahuan menjadi mungkin. Di sinilah terletak kekhasan
pemikiran seorang Immanuel Kant, yang ia sebut sebagai Revolusi Copernicus
dalam bangunan filsafat. Kant menempatkan pikiran dalam kerangka aktif proses
mengetahui dan a priori sintentik merupakan cara pikiran untuk aktif dalam
proses mengetahui.
Estetika
Transendental Estetika transendental adalah ilmu dari prinsip sensibilitas
(menerima representasi melalui cara di luar indra perasa yang membuat kita
terpengaruh oleh sang objek) secara a priori. Untuk menuju estetika murni ini,
maka kita harus melepaskan semua indra perasa kita, sehingga kita bisa
menemukan intuisi murni tanpa dipengaruhi oleh fenomena objek yang kita teliti.
Hanya dengan cara inilah kita bisa menemukan pengetahuan a priori yang murni.
Menurut Kant, ada dua bentuk dari hasil indra kita, namun bisa bebas dari
mereka, dan bisa kita ketahui secara a priori, yaitu ruang dan waktu.
Bagi
Kant, tujuan dari sistem dari penalaran murni adalah untuk membangun filsafat
transendental. Filsafat transendental adalah ide akan sebuah ilmu, di mana
kritik atas penalaran murni harus menggambarkan seluruh rencananya dari
prinsip-prinsip, yang memberi garansi akan kesahihan dan kestabilan semua
bagian yang memasuki sistem berpikirnya. Filsafat ini adalah sistem dari semua
prinsip penalaran murni, dan Critique of Pure Reason bertugas untuk mengujinya.
To the Critique of Pure Reason,
therefore, belongs all that constitutes transcendental philosophy; and it is
the complete idea of transcendental philosophy, but still not the science
itself; because it only proceeds so far with the analysis as is necessary to
the power of judging completely of our syntethical knowledge a priori.
2. Ruang dan
Waktu
Pengetahuan
berawal dari proses sensasi atau penginderaan disebut sensibilitas. Yang
artimya sarananya ialah intuisi dan sensibilitas bersifat reseptif. Setelah
masuk ke ranah intuisi informasi/pengetahuan akan langsung ditransfer ke
pikiran. Pemahaman merupakan kumpulan mental yang berfungsi untuk melakukan
konseptualisasi intuisi-intuisi yang diberikan oleh sensibilitas. Pemahaman
merupakan kegiatan nalar yang aktif dan imajinatif. Sensibilitas dan pemahaman
berfungsi saling melengkapi, keduanya dibutuhkan untuk menjalani hidup dan
memahami dunia. Seluruh fenomena selalu berkaitan dengan forma dan materi.
Contohnya, ruangan merupakan suatu forma dari materi pengalaman visual, warna
dan pencahayaan.
Forma
merupakan struktur yang kita gunakan dalam memandang fenomena. Sedangkan konsep
merupakan cara bagaimana memahami dan mengkategorikan fenomena guna mendapatkan
pengetahuan. Perbedaan keduanya, forma merupakan bagian dari intuisi sedangkan
materi dapat dipelajari dan diterapkan oleh intuisi untuk memahami forma. Salah
satu contoh forma adalah, ruang dan waktu.
Ruang
dan waktu merupakan forma yang kita gunakan dalam melihat dunia. Ruang dan
waktu juga menjadi cara seorang manusia menjalani hidup di dunia. Bagaimana
mungkin dapat dipisahkan antara pengalaman dengan ruang dan waktu? Tidak
aseorang pun dapat memisahkannya. Ruang dan waktu tidak bersifat empiris dan
konseptual. Keduanya tidak termasuk ke dalam materi/konsep, sehingga tidak
dapat dipelajari. Suatu konsep berkorespondensi dengan pengalaman menjadi suatu
peradaban tertentu akan mengkonseptualisasi dunia berbeda dengan yang lainnya.
Ruang dan waktu tidak perlu dibuktikan karena setiap manusia memiliki
pengalaman yang berkorespondensi dengan kedua hal tersebut.
Ruang
dan waktu memiliki objektivitas empiris untuk memahami dunia secara objektif
dan keduanya juga memiliki sisi subjektivitas transcendental karena keduanya
merupakan forma. Waktu merupakan kontinutas dan keteraturan pengalaman dan
ruang bersifat tidak diskursif, hanya terdapat satu ruang, sesuatu yang
berukuran tak teratas. Dalam ilmu matematika, geometri adalah suatu bahasan
yang membahas tentang ruang dan hubungan di dalamnya.
Ruang
dan waktu merupakan kondisi mutlak yang diperlukan untuk kita merasakan
pengalaman. Dengan demikian, keduanya tidak perlu dibuktikan karena berada di
luar fakta sederhana bahwa kita memiliki pengalaman. Kant berpendapat bahwa
ruang dan waktu itu nyata secara empiris. Namun dengan menggunakan metode
pemeriksaan transendental kita juga mengetahui bahwa ruang dan waktu tidak
merepresentasikan sifat – sifat das Ding an sich. Sebaliknya, keduanya
merupakan bagian dari cara kita memandang dunia. Ini merupakan salah satu
contoh perbedaan yang digarisbawahi Kant tentang objektvitas empiris dan
subjektivitas transendental. Dan juga menunjukkan kesatuan kedua konsep
tersebut:
-
Ruang dan waktu
memiliki objektivitas empiris, karena keduanya merupakan prasyarat yang
diperlukan untuk mengalami dunia objektif.
-
Ruang dan waktu juga
memiliki sisi subjektivitas transendental karena keduanya merupakan forma, yang
mana melalui keduanya pikiran dapat memahami dunia.
Waktu
merupakan kontinutas dan keteraturan pengalaman. Ruang bersifat tidak
diskursif, hanya terdapat satu ruang, sesuatu yang berukuran tak terbatas.
Geometri merupakan suatu studi tentang ruang dan hubungan dalam ruang. Dengan
demikian, geometri bersifat a priori sintetik. Pandangan Kant ini berbeda
dengan kebanyakan pandangan mazhab pemikiran matematika analitik yang
menitikberatkan seluruh gagasan matematis pada logika. Mungkin kita dapat
membantah pendapat Kant, bahwa ruang tidak dengan sendirinya memberikan bentuk
(forma).
Dengan
perkembangan geometri non– euklidian kita dapat melakukan konseptualisasi ruang
dengan cara berbeda dari yang
dilakukan oleh Kant yang pandangannya terhadap geometri terbatas pada ruang
euklidian. Akan tetapi, banyak filsuf penganut aliran filsafat Kantian yang
menolak argumen itu dengan alasan bahwa terdapat cara dasar manusia memandang
ruang yang tidak terpengaruh oleh perkembangan geometri modern. Dengan
demikian, menurut mereka geometri non–euklidian merupakan perangkat peradaban
yang kita gunakan untuk memperbaiki pemahaman kita tentang dunia pada tingkatan
objektif, bukan pada tingkatan pengalaman. Forma pengalaman tentang ruang masih
merupakan forma ruang spasial Kantian yang dikenal oleh seluruh manusia.
Ada
beberapa pengertian yang diberikan oleh Kant mengenai ruang. Konsep ruang
datang kepada kita dengan sendirinya tanpa bantuan indra peraba dan pengalaman.
Argumen yang dibangun Kant adalah bahwa ruang selalu ada, dan hanya ada satu
untuk semua orang meskipun bentuknya bisa berubah. Kita semua ada dalam ruang
yang sama yang jumlahnya tak terbatas. Ruang adalah intuisi murni dan bisa
berdiri pada dirinya sendiri meskipun tidak memiliki ukuran atau definisi
empiris. Geometri, atau ilmu ukur ruang dalam matematika, adalah ilmu yang
membantu kita mengukur ruang. Namun bagaimana ilmu ini bisa kita teliti tanpa
lebih dulu memiliki sejenis paham mengenai ruang? Kita tidak akan bisa mengukur
ruang, dan mengetahui bahwa ukuran yang kita pakai adalah benar, tanpa
pengertian lebih dulu bahwa ruang itu ada.
Pemahaman
kita akan ruang tidak dipengaruhi oleh fenomena dari indra peraba kita, dan
ruang akan tetap ada meskipun indra peraba kita tidak ada lagi. Tanpa ruang,
kita tidak akan ada, dan kita sepertinya sudah memiliki ide ini. Semua sensor
yang kita miliki tidak membuat kita menjadi tahu tentang apa ruang itu, namun
hanya memperjelasnya. Demikian juga dengan konsep kita tentang waktu. Waktu
bukanlah konsep empiris yang berhubungan dengan semua indra peraba kita. Waktu,
yang juga tak terhingga seperti ruang, hanya bisa kita ketahui secara a priori.
Kant berpendapat bahwa kita semua terikat di waktu yang sama. Semua pengetahuan
melalui penelitian dan pengalaman terhadap objek membantu kita untuk memberi
makna terhadap waktu. Sesuatu yang tidak terikat pada ruang tertentu tetap
masih harus terbatas pada waktu. Tanpa pemikiran kita, waktu akan tetap ada dan
mengatur kita. Waktu dan ruang mengikat kita dan semua pengetahuan empiris
kita. Kedua hal ini adalah
bentuk paling murni, dan tidak ada lagi di luar kedua hal ini.
Pengertian
kita tentang ruang dan waktu datang kepada kita secara a priori tanpa bantuan
pengalaman. Pengalaman hanya menguatkan pengetahuan yang sudah ada itu. Karena
itu, ruang dan waktu adalah kenyataan transenden yang paling murni. Tugas
pengetahuan empiris adalah untuk memberi kita makna akan ruang dan waktu yang
kita diami. Jika ruang dan waktu adalah ciptaan pikiran kita melalui pengalaman,
maka seharusnya kita bisa berimajinasi mengenai apa yang ada di balik mereka.
Kita tidak bisa memikirkannya kalau kita dibatasi oleh pikiran empiris kita.
Kant berpendapat bahwa estetika trasenden hanya memiliki ruang dan waktu
sebagai konsep yang melampaui indra peraba kita yang membuktikan bahwa
pengetahuan a priori itu melampaui pengetahuan empiris manusia. Lebih jauh,
Kant bahkan mengatakan bahwa pengetahuan empiris pun sebenarnya bukan
pengetahuan murni, karena dia adalah fenomena yang datang dari indra peraba
kita. Dengan indra, kita hanya bisa mengetahui sebatas yang kita lihat dan yang
ada, padahal pengetahuan itu lebih dari sekedar apa yang ada pada sensor peraba
kita. Peran dari nalar murni adalah untuk mengetahui batasan ini dan juga
batasan pada dirinya sendiri.
Critique
of Pure Reason juga menunjukkan bahwa nalar juga memiliki batasan, dan tugas
pengetahuan empiris adalah membuktikan dan menjelaskan pengetahuan kita itu
agar dia tidak jatuh menjadi dogma semata. Pada saat yang sama Kant menjelaskan
batasan dunia empiris dan juga batasan dunia metafisika. Kant berhasil
membedakan pengetahuan sintetis dan a priori dari analitis dan a posteriori.
Dia memberi 4 definisi yang berbeda. Karena hanya kebenaran a priori yang
bersifat universal, seperti dalam ruang dan waktu, maka kebenaran sejati
pastilah a priori. Pengertian semacam ini memberi argumen terhadap kebenaran a
priori. Karena keterbatasan indra kita, maka tugas pengetahuan empiris adalah
menjelaskan keterbatasan metafisika kita. Kedua hal ini sebenarnya saling
terkait. Menurut saya, Kant sebenarnya tidak pernah ingin menolak pengetahuan
yang kita peroleh melalui pengamatan empiris, dia hanya ingin menunjukkan bahwa
pengetahuan empiris saja tidak cukup untuk sampai kepada pengetahuan murni.
Kenyataan
adalah gabungan dari kedua pengetahuan a priori dan a posteriori, antara
sintetis dan analitis. Kant sebenarnya sudah sangat maju dalam pemikirannya,
bahwa menurutnya, pikiran kita tidak hanya menerima objek yang ada di sekitar
kita, tetapi pikiran kita justru aktif memberi makna terhadapnya. Pengertian
yang sesungguhnya dari suatu objek bisa terdistorsi oleh indra perasa kita
sehingga kita tidak akan bisa sampai kepada pengertian yang sesungguhnya
melalui pengamatan saja. Pengetahuan empiris adalah seperti pelengkap ke dalam
dunia pengetahuan a priori yang sudah lebih dulu ada. Melalui analisisnya, Kant
berhasil menunjukkan bahwa prinsip dasar dalam matematika justru berasal dari
pengetahuan a priori. Namun pengetahuan a priori ini tidak bisa murni kita
terima seperti yang kita harapkan. Instrumen perasa dan nalar kita yang
terbatas membuat kita membutuhkan keduanya penguji pengetahuan a priori dan
analitis.
Ada
yang mengkritik Kant dengan mengatakan bahwa Kant tidak pernah menjelaskan
matematika dari sisi empiris. Ketika Kant menjelaskan matematika dari nalar,
maka dia akan menemukannya secara a priori, sementara matematika adalah
pengetahuan yang membutuhkan pembenaran secara analitis, tanpanya kita tidak
tahu apakah pengetahuan a priori itu benar atau tidak. Salah satu kritik yang
hendak saya ajukan adalah prinsip Kant yang memandang ruang dan waktu sebagai
tak terhingga dan hanya satu. Berbagai teori baru dalam dunia fisika sepertinya
menunjukkan bahwa di balik ruang yang kita tempati sekarang, ada ruang lain
yang juga berjalan pada waktu bersamaan. Teori ini tetap masih harus
dibuktikan. Ada juga teori lain yang berargumen bahwa pada waktu yang sama, ada
waktu lain yang berjalan beriringan, dan ada jumlah waktu yang tak terbatas
yang berjalan beriringan tanpa memengaruhi satu dengan yang lain. Hal ini juga
masih harus terus diuji melalui penemuan baru di bidang sains.
3. Pengetahuan
Murni dan Empiris
Suatu konsep disebut sebagai
pengetahuan murni, jika konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan tidak
terjadi secara langsung pada kenyataan. Pada tataran inilah pengetahuan
transendental berada. Kant menuliskan, “Seluruh pengetahuan berawal dari
pengalaman, akan tetapi hal ini tidak berarti, bahwa seluruh pengetahuan
berasal secara langsung dari pengalaman”. Dalam hal ini, Kant secara tersirat
menyinggung tentang pengetahuan transendental. Pengetahuan transendental
bukanlah sesuatu yang dialami
itu sendiri. Pengetahuan transendental tidak dapat dibuktikan kebenarannya
tanpa pengalaman. Jadi, seperti dalam deduksi transendental yang telah
dijelaskan pada bagian sebelumnya, tanpa kebenaran pada premis 2, kita tidak
dapat menarik kesimpulan tentang premis 3. Kant juga berpendapat, tanpa
kemampuan akal budi untuk mengorganisasikan dan mengkonseptualisasikan
pengalaman, kita tidak akan dapat merasakan pengalaman itu sendiri. Melalui
epistemologinya, Kant mengakui argumen filsuf empiris seperti Hume, yang
berpendapat bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman. Di sisi lain
Kant juga mengakui pemikiran rasionalis seperti Leibniz yang berpendapat bahwa
ide-ide dan pemikiran
merupakan esensi dari pengetahuan.
Epistemologi
Kant hendak mensintesiskan dua kubu pemikiran yang bertentangan waktu itu. Kant
memunculkan beberapa istilah baru guna mendukung filsafatnya, antara lain: Sensibilitas, yang
berarti sarana kita untuk mendapatkan intuisi. Sensibilitas bersifat reseptif.
Melaluinya intuisi langsung ditransfer ke pikiran. Pemahaman, merupakan
fakultas mental yang berfungsi untuk melakukan konseptualisasi intuisi-intuisi yang diberikan
oleh sensibilitas. Pemahaman merupakan kegiatan nalar yang aktif dan
imajinatif. Baik sensibilitas dan pemahaman berfungsi saling melengkapi,
keduanya dibutuhkan untuk mengalami dan memahami dunia. Seluruh fenomena yang
kita alami selalu berkaitan dengan materi dan forma. Materi merupakan sensasi
sekilas. Sedangkan forma merupakan cara kita memahami sensasi
tersebut. Sebagai contoh, ruangan merupakan suatu forma dari materi pengalaman
visual, warna dan pencahayaan. Kant membedakan antara forma dan konsep. Forma
merupakan struktur yang kita gunakan dalam memandang fenomena. Sedangkan konsep
merupakan cara bagaimana kita memahami dan mengkategorikan fenomena guna
mendapatkan pengetahuan. Forma merupakan bagian intuisi. Sementara konsep dapat
dipelajari dan diterapkan oleh intuisi untuk memahami forma.
Kant
bermaksud untuk membela sains. Kant menolak keraguan yang terjadi sebelumnya,
yaitu keraguan pada sains (baca: skeptisisme Hume) dengan mengatakan bahwa
teori ilmu pengetahuan (sains) dapat dibenarkan apabila mempunyai dasar a
priori, dan cara memperolehnya melalui rasio murni (pure reason). Rasio disini
berperan aktif dalam mengelola sensasi masuk ke persepsi lalu menjadi konsepsi
(baca: sturktur mental inheren). Kritik yang dianggap usaha raksasa
dari Kant adalah upaya mendamaikan rasionalisme (yang beranggapan bahwa
pengetahuan (pengenalan) dicapai secara apriori, lepas dari pengalaman) dan
empirisisme (yang menekankan pada aposteriori). Kant berupaya menjelaskan bahwa
pengetahuan manusia merupakan paduan atau sintesa antara unsuunsur apriori
dengan unsur-unsur aposteriori. Sedangkan letak radikalitas Kant dalam
filsafatnya adalah pembalikan pengertian tentang pengetahuan yang dulu dianggap
bahwa pengetahuan dengan mengandaikan bahwa si subyek mengarahkan diri pada
obyek, sedangkan yang betul menurut Kant adalah obyek yang mengarahkan diri
pada si subyek. Dalam
hal ini, manusia mempunyai peran signifikan untuk menangkap dan memahami
realitas (obyek pengetahuan) itu sendiri. Karena itu, dapat dikatakan bahwa
realitas itu adalah yang sudah dipermak dan dikayasa oleh pengertian kita.
Selanjutnya,
penulis perlu mengurai pengenalan manusia dalam rangka proses mencapai ilmu
pengetahuan yang dibagi menjadi tiga bagian;
-
Pengenalan taraf
indrawi.
Kant
mengatakan bahwa pengenalan adalah sintesis antara unsur apriori dengan unsur
aposteriori. Unsur apriori memaikan peranan bentuk dan unsur aposteriori
memainkan peranan materi. Menurut Kant, unsur apriori sudah ada pada taraf
indrawi. Oleh karena itu, pengenalan selalu ada dua bentuk pengenalan apriori,
yaitu ruang dan waktu. Jadi, ruang tidak merupakan ruang kosong, di mana
benada-benda diletakkan; ruang pada dirinya sendiri. Dan waktu tidak merupakan
arus tetap, di mana pengindraan-pengindraan bisa ditempatkan. Kedua-duanya
merupakan bentuk apriori dari pengenalan indrawi. Karena itu, kedua-duanya
berakar pada struktur subyek sendiri.
-
Pengenalan pada taraf
akal budi
Pengenalan
pada taraf akal budi (verstand) yang dibedakan dengan rasio (vernunft). Tugas
akal budi adalah menciptakan orde antara data-data indrawi. Dengan kata lain,
akal budi adalah yang mengucapkan
putusan-putusan. Pengenalan akal budi merupakan sintesis antara bentuk (form)
dan materi. Materi adalah data-data indrawi dan betuk adalah apriori yang
terdapat pada akal budi. Bentuk apriori ini oleh Kant disebutkategori yang terbagi menjadi
12 sebagai berikut: Pertama, Kuantitas yang terbagi lagi menjadi tiga;
kesadaran kesatuan, kesadaran pluralitas, kesadaran totalitas. Kedua, Kualitas
dibagi lagi menjadi tiga bagian; realitas, negasi dan pembatasan. Ketiga,
Relasi dibagi menjadi tiga; substansiaksidensi, sebab-akibat dan komunitas.
Keempat, Modalitas yang dibaginya menjadi tiga; kemungkinan dan kemustahilan,
eksistensi dan non-eksistensi, keniscayaan dan kontigensi. Salah satu contoh
antara substansi dan kausalitas sebagai berikut; kita membentuk putusan bahwa A
menyebabkan B, maka sahnya putusan itu tidak mesti langsung dari realitas,
melainkan kita harus memikirkan hubungan kausalitas antara A dan B. Dengan
penjelasan bahwa ketika kita misalnya melihat sesuatu dengan memakai kaca mata
hitam, maka kita akan melihat semua obyek yang kita lihat hitam, tapi hitamnya
obyek yang kita lihat, tidak berarti
bahwa
obyek yang kita lihat itu adalah hitam. Jadi, hitamnya obyek yang kita lihat
itu hanyalah bentuk keniscayaan bagi kita sendiri karena kita melihatnya
memakai kaca mata hitam. Karena itu, Kant meskipun menegaskan kepastian dan
keabsolutan sains, ia tetap menilai bahwa sains masih mempunyai keterbatasan
dan kerelativan. Terbatas pada objek empiris, relatif sesuai dengan cara kita
melihat dan memahaminya.
-
Pengenalan taraf rasio
Sedang
tugas rasio adalah menarik kesimpulan dari putusan-putusan. Dengan kata
lain, rasio mengadakan argumentasiargumentasi. Seperti akal budi menggabungkan
data-data inderawi dengan mengadakan putusan-putusan, demikian pun rasio
menggabungkan putusanputusan. Kant memperlihatkan bahwa rasio membentuk
argumentasi-argumentasi dengan dipimpin oleh tiga ide, yaitu jiwa, dunia dan
Allah. Dengan ide inilah Kant ingin mencapai kesatuan terakhir dalam bidang
jiwa, dunia dan Allah. Ketiga ide itu mengatur pengenalan kita, tapi tidak
temasuk pengalaman. Karena kategori hanya sampai pada apa yang dapat dialami.
Dengan
pembedaan antara rasio murni dengan rasio praktis (yang akan dijelaskan dibawah
ini), maka Kant pada dasarnya ingin mengatakan bahwa yang mampu menembus
pengetahuan noumena - seperti obyek keyakinan- adalah rasio praktis (practical
reason) yang termuat dalam buku keduanya, yaitu The Critique of Practical
Reason. Sampai disini, dapat dipahami bahwa Kant adalah termasuk aliran
filsafat dualisme, karena telah membedakan antara dunia fenomena dan dunia
hakiki (noumena), meskipun Kant meletakkan fenomena sebagai bagian dari noumena.
Kant
mengatakan bahwa moralitas adalah hal yang menyangkut baik dan buruk, tetapi
bukan sembarang yang baik dan buruk, melainkan, dalam bahasa Kant, apa yang
baik pada dirinya sendiri tanpa pembatasan. Sedang kebaikan yang tanpa pembatasan
adalah kehendak baik. Berbeda dengan hal itu, adalah bakat rohani, ciri
perangai dan sifat-sifat watak seseorang hanya akan mempunyai nilai moral
apabila diabdikan pada kehendak baik itu; kehendak yang menentukan apakah watak
orang dipakai dengan baik atau buruk. Syarat kebaikan pelbagai sifat manusia
adalah kehendaknya yang baik.
Namun
demikian, bagaimana kehendak baik menyatakan diri? Kant menjawabnya dengan
mengatakan bahwa kehendak yang mau melakukan kewajiban. Sedang dorongan untuk
melakukan kewajiban terdiri tiga kemungkinan; pertama, ia dapat memenuhi karena
menguntungkan. Misalnya, ia mendapat predikat baik. Kedua, ia melakukan karena
dorongan langsung dari hati nuraninya. Misalnya, ia merasa kasihan dan tidak
tega. Ketiga, ia memenuhi
kewajiban
demi kewajiban itu sendiri. Menurut Kant, hanya kehendak yang ketiga inilah
kehendak yang betul-betul moral. Untuk itu, Kant mengukur tindakan moral
seseorang bukan pada hasil dan hasil yang dimaksud, tetapi pada si pelaku,
apakah kehendaknya ditentukan semata-mata oleh kenyataan bahwa perbuatan itu
merupakan kewajibannya. Selanjutnya, apabila kewajiban merupakan paham apriori
akal budi murni-artinya, kewajiban itu tidak ditentukan oleh realitas empiris
seperti kebutuhan, tujuan dan nilai- lalu bagaimana mengetahui tindakan moral
itu? Kant menjawab bahwa kriteria itu adalah Imperatif Kategoris. Imperatif
kategoris adalah suatu perintah mutlak dan tanpa syarat. Pertama, dia berupa
perintah, kedua bahwa perintah itu kategoris. Suatu perintah yang mengungkapkan
suatu keharusan (sollen). Dalam hal ini ada tiga perintah: pertama, imperatif
hipotetis praktis; suatu perintah dari luar yang mempunyai kepastian didapat
apa yang diharapkan, misalnya jika ingin lulus ujian, kamu harus belajar rajin.
Imperatif hipotetis problematis adalah tindakan moral yang mengandung
kemungkinan untuk mendapatkannya, seperti perintah dokter pada pasien untuk minum obat. Sedang
keputusan yang diambil adalah keputusan analitis; keputusan yang menuntut semua
orang pada pilihan sarana tertentu untuk mencapai tujuan. Perbedaannya,
imperatif hipotetis praktis adalah tujuannya pasti dinginkan semua orang dan
tindakannya disebut tindakan kebijaksanaan, sedang imperatif hipotetis
problematis adalah tujuannya hanya apa yang mungkin diinginkan setiap orang,
dan tindakannya disebut tindakan kecakapan.
Dua imperatif itu disebut imperatif hipotetis, yaitu imperatif atau keharusan
bersyarat. Sedangkan bentuk imperatif kategoris adalah “perintah bertindak
secara moral!” Itulah perintah atau kewajiban mutlak satu-satunya. Kita dapat
mehami bahwa (filsafat) moral Kant tidak bergantung pada maksud baik, tujuan
dan kondisi apapun, tapi berlaku di mana saja, tanpa pembatasan apapun.
Namun
demikian, bagaimana kita bertindak secara moral? Kant merumuskan imperatif
kategoris sebagai berikut: “bertindaklah semata-mata menurut prinsip atau
maksim yang dapat sekaligus kau kehendaki menjadi hukum universal”. Misalnya, janganlah
kamu berbuat bohong. Perintah ini berlaku bagi semua orang tanpa pembatasan
apapun. Sedangkan keputusan imperatif kategoris adalah keputusan sintetis.
Kant
mengatakan bahwa penilaian terhadap suatu tindakan moral itu harus didasarkan
pada ukuran otonomi individu yang melaksanakan, tanpa mempertimbangkan konteks
tindakan dan tujuannya. Oleh karena itu, konsep moral Kant disebut deontologi; suatu teori
tentang kewajiban melakukan sesuatu secara niscaya, tanpa harus melihat
konsekwensi-konsekwensi yang akan diperolehnya. Karena itu, tindakan yang tidak
otonom (heteronom) adalah tindakan yang bukan moral karena tidak bebas. Menurut
Kant, otonomi akan mengantarkan manusia pada kebebasan. Sedang kebebasan adalah
suatu kenyataan dalam kesadaran manusia yang adanya tidak dapat disangkal.
Untuk itu, pembuktian moralitas Kant haruslah melalui kesadaran hati nurani
(atau rasio praktis).
Kebebasan (kehendak) merupakan kenyataan
yang tidak dapat disangkal karena terimplikasi langsung dalam kesadaran moral.
Kenyataan semacam itu oleh Kant disebut postulat. Postulat itu sesuatu yang
tidak dapat dibuktikan secara empiris, tetapi kenyataannya tidak dapat
disangkal karena suatu realitas tidak mungkin kalau postulat itu tidak
nyata-nyata ada. Kenyataan kesadaran moral mengimplikasikan bahwa kita
betul-betul berkehendak bebas. Artinya, kita dapat mengambil sikap dan tindakan
lepas dari segala macam dorongan, rangsangan, emosi, dan sebagainya.
Selain
kebebasan itu, Kant juga menambahkan dua postulat lagi yaitu, Pertama adalah
imortalitas jiwa. Menurut Kant, Jiwa haruslah imortal agar supaya kita dapat
mencapai Kebaikan Yang Tertinggi yang tak dapat dicapai di dunia fana ini.
Kedua adalah Tuhan. Menurut Kant, Tuhan adalah kebaikan tertinggi, karena itu
mempercayainya adalah hal yang
mutlak,
sebab Dia-lah sebagai hakim yang akan menentukan dan menilai semua amal
perbuatan baik dan buruk kita. Kant menyebut fakta bahwa Ide Kebaikan Tertinggi
adalah obyek dan tujuan final rasio praktis. Karena itu, hukum moral Kant secara tidak langsung
telah mengacu pada agama, yaitu kepada pengakuan seluruh kewajiban perintah
Tuhan. Sedang letak pentingnya postulat ini adalah, ketika kita dihadapkan
keputusasaan moral. Misalnya, kita sering melihat orang yang jahat mendapatkan
kebahagiaan, sementara kita sendiri yang melakukan kebaikan tidak mendapatkan
kebahagiaan. Untuk itu, tindakan moral kita akan bermakna, kalau ada kebebasan,
imortalitas jiwa dan Tuhan.
Rasionalisme
memulai asumsi bahwa pikiran manusia dianugerahi dengan ide-ide bawaan untuk
mengatasi suatu kesulitan. Dengan kata lain, logika memiliki peran besar dalam
mengatasi kesulitan yang dialami manusia. Deduksi dari ide-ide bawaan ini
dilengkapi dengan universalitas dan sesuatu yang dibutuhkan. Universalitas yang
dimaksudkan ialah ide-ide bawaan yang dimiliki disartikan sebagai sesuatu yang
bersifat umum dan sesuatu yang dibutuhkan yaitu kualitas yang harus dimiliki
semua ilmiah dan filsafat. Keabsahan dan validitas pengetahuan seperti ini
tidak dapat ditunjukkan dengan kaum rasionalisme. Bahkan muncul keraguan adanya
Tuhan bagi kaum rasionalisme.
Selanjutnya,
muncul paham empirisme yang meyakini kebenaran terhadap hal yang hanya dapat
diamati oleh panca indera. Cara impresi inderawi tidak dapat menunjukkan aspek
universalitas dan keniscayaan pengetahuan tersebut. Sebelumnya David Hume juga
pernah mengkritisi terhadap kesulitan yang dihadapi empirisme. Hume
mengemukakan unsur psikologis yang kaun yang disebut kebiasaan mengasosiasi.
Yaitu menghubungkan impresi yang satu dengan imperi yang lainnya, kemudian
memberikan unsur universalitas dan keniscayaan. Akan tetapi solusi yang
ditawarkan Hume seakan memaksakan, sehingga gagasan tersebut tampak jelas tidak
memuaskan para intelek di masa itu.
Berdasarkan
hal itu, Kant memikirkan solusi terbaik untuk memahami realitas. Dua petanyaan
penting yang tertuang dalam buku karyanya Critique,
yaitu what can I know? dan what should I do?. Pertanyaan pertama
ialah berhubungan pada teori ilmu pengetahuan dan pertanyaan kedua berkaitan
dengan masalah etika. Solusi yang ditawarkan Kant merupakan suatu solusi yang
konklusif (memiliki kesimpulan). Dan ia terus menguji dengan sungguh-sungguh
rasionalisme dan emperisme, untuk menemukan kelemahan-kelemahan keduanya dan
juga mempertahankan hal esensial yang terkandung.
Perkembangan
para filsuf mulai dari rasionalisme, empiris dan kritik Immanuel Kant terhadap
keduanya, merupakan wujud nyata bagi generasi mendatang bahwa pengetahuan akan
terus berkembang dengan tidak meningglakan jejak pengetahuan yang lalu. Namun
selaku seorang yang mempunyai logika spiritual yang mendalam, tetap saja harus
membatasi pemikiran lebih dalam tentang Dzat Allah Tuhan Sang Pencipta. Bahkan
untuk membayangkan-Nya saja kapasitas manusia tidak akan mampu. Keterbatasan
dan ketidaksempurnaan manusia dapat menjadi kebahagian tersendiri bagi setiap
individu. Karena sekiranya manusia itu tidak terbatas mungkin ia tidak akan
bisa terlelap tidur setiap malamnya. Maka oleh karena itu perkembangan ilmu
pengetahuan harus terus dipelari oleh para intelektual di masa mendatang,
dengan cara membaca dan membaca. Tanpa membaca tidak akan ada kebenaran ilmu
pengetahuan yang akan diperoleh manusia. Intuisi seseorang akan berpengaruh
dari pengalaman yang dialami di dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar