Dari hasil video yang saya saksikan
dengan seksama dan sedikit diskusi pada pertemuan pertama dengan Bapak Prof.
Dr. Marsigit, M.A, berikut ini hasil pencermatan dan pemahaman saya terhadap filsafat.
Saya memberi judul “Perkembangan Filsafat dari Sudut Pandang Keterbatasan Ruang
dan Waktu”, secara garis besar saya kelompokkan ke tiga sudut pandang, yaitu
ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Dipandang dari segi
bahasa/etimologi filsafat dalam bahasa Arab dikenal dengan Falsafah, dalam bahasa
Inggris dikenal dengan Phylosophy dan
dalam bahasa Yunani dikenal dengan Philosophia. Philein berarti cinta dan sophia
berarti kebijaksanaan. Kata ini pertama sekali digunakan oleh Phytagoras
(582-486 SM) (Suaedi: 2016, hal 7). Dan definisi secara istilah sangat luas,
tergantung kepada sudut pandang seseorang. Para filsuf mengartikan filsafat
berdasarkan pola pikir dan pengalamannya masing-masing. Karena tidak terdapat
batasan sehingga dari abad ke abad perkembangan filsafat sejalan dengan ilmu
pengetahuan. Misalkan saja, ketika kita melihat baju berwarna putih, yang kita
lihat putih tersebut bukanlah warna aslinya. Akan tetapi putih itu adalah hasil
pantulan dari mata kita. Proses melihat dan berpikir seperti contoh sederhana
tersebut saja sudah termasuk filsafat, artinya kita sedang berfilsafat tentang
warna tersebut.
Pernyataan Descartes yang sangat
dikenal hingga saat ini adalah “Aku berpikir maka aku ada”. Kehidupan manusia
itu metafisika. Artinya keberadaan dan realitas yang menyertai kehidupan
manusia adalah hakikat secara fundamental. Setelah yang ada, masih ada yang ada
lagi, begitu seterusnya. Karena manusia tidak sempurna. Kesempurnaan manusia
itu ketidaksempunaan di dalam kesempurnaan. Begitu pula sebaliknya,
ketidaksempurnaan manusia merupakan makna suatu kesempurnaan itu sendiri. Secara
filosofis, ilmu pengetahuan harus dipahami dari 3 pilar, yaitu; ontologi, epistemologi dan aksiologi.
1) Ontologi
Ontologi
merupakan suatu teori tentang makna dari suatu objek, properti dari suatu
objek, serta relasi objek tersebut yang mungkin terjadi pada suatu domain
pengetahuan. (Rai Utama: 2013, hal. 83). Manusia tidak sempurna dan terbatas
oleh ruang dan waktu. Ketidak sempurnaan manusia itulah yang menjadi nilai
tambah bagi manusia. Jika manusia sempurna maka ia tidak akan mampu hidup di
dunia.
Pandangan-pandangan
pokok ontologi (Suaedi: 2016, hal.84-87)
a.
Monoisme
Aliran filsafat
yang menyatakan bahwa hanya ada satu kenyataan fundamental. Tergolong di dalamnya
materialisme (hanya berpusat pada materi) dan idealisme (pemikiran tertinggi
adalah ide). Idealism, sebaik-baiknya filsafat adalah paham ruang dan waktu.
Orang bodoh itu yang tidak mengerti ruang dan waktu. Intuisi dua satu yaitu
intuisi daya sadar dan daya tangkap manusia melalui kemampuan merasa dan
berpikir instingtif dan bawah sadar dalam mengikuti fenomena menembus ruang dan
waktu (Marsigit. Filsafat Penjumlahan). Pancasila itu pada hakikatnya
monodualisme. Yaitu habluminallah dan
habluminnas.
b.
Dualisme
Aliran yang
berpendapat bahwa benda terdiri atas dua macam hakikat sebagai asal sumbernya,
yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan ruh, jasad dan spirit,
materi bukan muncul dari ruh, serta roh bukan muncul dari benda.
c.
Pluralisme
Paham ini
berpeandangan bahwa segala macam bentuk merupakan kenyataan. Paham yang
menyatakan bahwa alam ini tersusun dari berbagai unsur. Dalam buku Filsafat
Ilmu dan Logika (2013, hal. 86-87) terdapat dua tambahan pandangan yaitu;
nihilisme dan agnotisisme.
2) Epistemologi
Epistemologi ialah cabang filsafat
yang menyelidiki asal mula, susunan, metode-metode dan sahnya pengetahuan (Buku
Unsur-Unsur Filsafat, Louis Kattsoff). Epistemologi
is one the core areas of philosophy. It is concerned with the nature, sources
and limits of knowledge. There is a vast array of view about those topics, but
one virtually universal presupposition is that knowledge is true belie, but not
mere true belief (Concise Routledge Encyclopedia of Philosophy, Taylor and
Francis, 2003) (Dalam Rai Utama, 2013, hal. 83).
Aliran-aliran dalam epistemologi:
a. Rasionalisme,
adalah paham yang mengganggap sumber pengetahuan manusia adalah rasio.
Rasionalisme itu ialah berpikir, dengan berpikir maka akan terbentuklah
pengetahuan. (Suaedi: 2016, hal 7). Topik yang sangat sering dikaitkan dalam
mengartikan logicism adalah matematika. Karena dianggap cara dan solusi dalam
memecahkan masalah haruslah menggunakan logika. Aliran filsafat yang
menggunakan logika ini adalah rasionalisme.
b.
Empirisme, paham yang menyatakan
bahwa semua pengetahuan berasal dari pengetahuan manusia.
c.
Realisme, adalah
anaggapan bahwa objek indera kita adalah real (nyata).
d.
Kritisisme, paham yang
mendamaikan emperisme dan rasionalisme. Paham ini berpusat pada objek.
Pengetahuan manusia bisa berasal dari akal dan pengalaman.
e.
Positivisme, paham ini
mengajarkan bahwa kebenaran merupan suatu hal yang logis dan ada bukti
empirisnya. Ilmu logis dengan fakta objek.
f.
Skeptisisme, seseorang
yang mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris. Seperti seorang
yang sedang bermimpi, sulit membedakan hal yang nyata (empiris) dan yang tidak
nyata (khayal)
g. Pragmatisme,
aliran filsafat yang menjelaskan segala
sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan melihat kepada
akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat.
Terdapat berbagai metodologi
memperoleh pengetahuan, salah satunya ialah yang metode induktif. David Hume
(1711-1776) telah membuat pernyataan yang berdasarkan observasi tunggal
betapapun besar jumlahnya, secara logis tak dapat menghasilkan suatu pernyataan
umum yang tak terbatas (Suaedi: 2016, hal. 100)
3) Aksiologi
Dalam bahasa Yunani, aksiologi
berasal dari kata axios artinya nilai dan logos artinya teori atau ilmu. Jadi
aksiologi adalah teori tentang nilai. Aksiologi bisa juga disebut sebagai the theory of value atau teori nilai. (Rai
Utama: 2013, hal. 83) Dalam pembahasan aksiologi nilai menjadi fokus utama.
Dalam filsafat nilai akan berkaitan dengan logika, etika dan estetika (Salam.
1997).
Hidup adalah terpilih atau memilih.
Hidup terpilih oleh Tuhan, dan manusia diberi kesempatan memilih hidupnya. Maka
jumlah atau tambah terpilih adalah jumlah atau tambah berketentuan yaitu milik
Tuhan. Jumlah atau tambah perubahan diberikan kepada manusia disertai dengan
jumlah atau tambah perubahan berketentuan. (Marsigit, Filsafat Penjumlahan). Sifat
itu ada yang tetap, seperti takdir. Tidak ada manusia yang mampu merubah
takdir. Dan juga ada yang berubah, seperti manusia, beubah setiap saatnya.
Kemarin, hari ini, besok hari, ataupun tadi, sekarang, dan nanti. Adanya
mengalami perubahan pada manusia.
Spiritualism merupakan filsafat absolutism,
karena tidak ada manusia yang mampu menentang kuasa Tuhan (causaprima, sebab
dari segala sebab). Adanya definisi dan asumsi yang tetap. Contoh berpikir logicism
ialah ketika membahas wanita maka akan coherentism dengan perempuan. Lalu analitiknya
ialah seorang ibu, kemudian konsisten itu ialah yang kita pikirkan (logika) melahirkan.
Tidaklah mungkin seorang ayah atau laki-laki dapat melahirkan.
Kebanyakan orang menjadi masalah
buat orang lain karena tidak menguasai dunianya. Mengapa demikian? Karena ia
tidak memahami dunianya. Manusia terikat pada ruang dan waktu. Dalam filsafat
juga ada yang dinamakan aksioma dan teorema. Apriori ialah pemahaman tanpa
melihat objek yang dibicarakan, perannya pada level orang dewasa.
Permenides, teori filsafat bersifat
tetap, misalkan A=A. Hukum identitas tautologis hanya ada di dalam pikiran
manusia. Meyakini Tuhan itu Esa/satu merupakan monoism (dari segi filsafat).
Sementara itu Rene Descartes, seorang tokoh rasionalism dan scepticism, karena
terlalu berfokus pada pikirannya, ia sampai meragukan adanya Tuhan. Menurut
Descartes sebenar benar ilmu harus berdasarkan rasio (pikiran). Scepticism sudah
ada sejak zaman yunani kuno. Kemudian muncullah empericism yang menentang
pemikiran Descartes, tokohnya David hume.
Filsafat itu bersifat berubah.
Artinya adanya pilihan, sehingga bagi manusia memilih itu adalah ikhtiar. Hidup
yang manusia akan ada yang berubah. Filsafat realisme dan materialism yang
bekerja pada pemikiran ini. Karena menganggap bahwa ilmu pengetahuan itu harus
adanya contoh. Meyakini adanya hukum alam, bukan logicism. Sehingga muncul yang
namanya corespondensialism. Yang saling berkorespondensi adalah realita, fakta
dan persepsi. Persepsi sintetik tidak menggunakan logika analitik. Semua hal
bersifat material. Dan akan meyakini kebenaran suatu ilmu pengetahuan
berdasarkan aposteriori, yaitu harus melihat langsung, perannya pada level
anak-anak. Semuany harus berdasarkan pengalaman
Muncul lah tokoh Imanuel Kant
(1671), ia membenarkan apriori dan sintetik. Sebenar-benar ilmu menurut nya
adalah apriori dan sintetik. Bukunya the
critic of dualism. Dalam perkembangan filsafat muncul John Locke
(1632-1714) David Hume (1711-1776) dan Immanuel Kant (1724-1804). Ketiga
filosof ini memberi pengaruh cukup besar terhadap perkembangan filsafat ilmu
selanjutnya. Berdasar pada empirisme radikal yang dianutnya Hume yakin bahwa
cara kerja logis induksi yang diperkenalkan oleh Bacon tidak mempunyai dasar
teoritis sama sekali. Logika induktif ialah kontradiksi: dua kata yang
bertentangan satu sama lain sebab induksi melanggar salah satu hukum logika
yaitu bahwa kesimpulan tidak boleh leboh luas dari pada premis. Sanggahan Hume
ini secara konsekwen sesuai dengan anggapan dasarnya bahwa hanya ada dua cara
pengetahuan, yaitu pengetahuan empiris dan abstract
reasoning concerning quantoty or number, yang keduanya deduktif. (Rai
Utama: 2013, hal. 14)
Kant dalam hal ini memperkenalkan
cara pengenalan dan mengambil kesimpulan secara sintetis yang di peroleh secara
a posteriori dan putusan analitis dan diperoleh secara a priori, di samping itu
juga kesimpulan yang bersifat sintetis yang juga diperoleh secara a priori.
Ilmu pasti disusun atas putusan yang a priori yang bersifat sintetis. Ilmu
pengetahuan mengandaikan adanya putusan - putusan yang memberikan pengertian
baru (sintetis) dan yang pasti mutlak serta bersifat umum (a priori). Maka ilmu
pengetahuan menuntut adanya putusan-putusan yang bersifat a priori yang
bersifat sintesis. Ketiga teorinya ini dikenal dengan nama Kritik Rasio Murni
yang dikemukakan dalam Kritik der Reinen Vernunft. (Rai Utama: 2013, hal. 15).
Positivisme merupakan suatu aliran
filasafat yang dibangun oleh Auguste Comte (1798-1857). Intinya positivisme
ingin membersihkan ilmu dari spekulasi-spekulasi yang tidak dapat dibuktikan
secara positif. Comte ingin mengembangkan ilmu dengan melakukan percobaan
(eksperimen) terhadap bahan faktual yang terdapat dalam kenyataan empirik,
bukan dengan jalan menyusun spekulasispekulasi rasional yang tidak dapat
dibuktikan secara positif lewat eksperirnen. Bagi Comte, positivisme merupakan
tahap akhir atau puncak dalam perkembangan pemikiran manusia. Comte membagi
perkembangan pernikiran manusia dalam tiga.tahap, yaitu: a) Tahap
mistik-teologik; b) Tahap metafisik; 3) Tahap positif. (Rai Utama: 2013, hal :
29).
Kemudian muncul tokoh Aguste Compte
(1857), mengatakan semua pendepat mereka tidak ada gunanya membangun dunia.
Menurutnya agama itu tidak logis, tidak dapat membangun dunia, dalam bukunya
positivism. Ia menaruh agama/spiritualitas. Teknologi itu menghasilkan
kesejarteraan dan kemunafikan. Tidak ada orang saat ini yang tidak terlambat
shalat karena HP.
Sumber : Seminar Nasional Pendidikan
Matematika (SENDIKA)
“Inovasi Pendidikan di Tengah Tantangan
Global” oleh Marsigit
Perkembangan
ilmu pengetahuan sekarang ini, secara garis besar dapat digambarkan seperti
bagan di atas. Power now comtemporary, archaic (manusia baru, yang diuji berkali
kali tapi tidak mau membaca), tribal (pedalaman), tradisional, feudal, modern,
pos modern. Keseluruhannya di latar belakangi dengan capitalism, materialism,
pragmatism, hedonism, utilitarisnism, functionalism dan liberalism. Dan sekarang
ini muncul gerakan Trumpism, America merasa telah menguasai dunia.
Sumber
:
Marsigit. 2017. “Inovasi Pendidikan
di Tengah Tantangan Global”. Seminar Nasional Pendidikan Matematika (SENDIKA).
Marsigit. Filsafat Penjumlahan.
Media Sosial Facebook.
Rai Utama, I Gusti Bagus. 2013. Filsafat
Ilmu dan Logika. Universitas Dhyana Pura Badung.
Suaedi 2016. Pengantar Ilmu. PT
penerbit IPB Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar