Kamis, 17 Desember 2020

Perkembangan Filsafat dari Sudut Pandang Ruang dan Waktu

 


Dari hasil video yang saya saksikan dengan seksama dan sedikit diskusi pada pertemuan pertama dengan Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A, berikut ini hasil pencermatan dan pemahaman saya terhadap filsafat. Saya memberi judul “Perkembangan Filsafat dari Sudut Pandang Keterbatasan Ruang dan Waktu”, secara garis besar saya kelompokkan ke tiga sudut pandang, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi.

Dipandang dari segi bahasa/etimologi filsafat dalam bahasa Arab dikenal dengan Falsafah,  dalam bahasa Inggris dikenal dengan Phylosophy dan dalam bahasa Yunani dikenal dengan Philosophia. Philein berarti cinta dan sophia berarti kebijaksanaan. Kata ini pertama sekali digunakan oleh Phytagoras (582-486 SM) (Suaedi: 2016, hal 7). Dan definisi secara istilah sangat luas, tergantung kepada sudut pandang seseorang. Para filsuf mengartikan filsafat berdasarkan pola pikir dan pengalamannya masing-masing. Karena tidak terdapat batasan sehingga dari abad ke abad perkembangan filsafat sejalan dengan ilmu pengetahuan. Misalkan saja, ketika kita melihat baju berwarna putih, yang kita lihat putih tersebut bukanlah warna aslinya. Akan tetapi putih itu adalah hasil pantulan dari mata kita. Proses melihat dan berpikir seperti contoh sederhana tersebut saja sudah termasuk filsafat, artinya kita sedang berfilsafat tentang warna tersebut.

Pernyataan Descartes yang sangat dikenal hingga saat ini adalah “Aku berpikir maka aku ada”. Kehidupan manusia itu metafisika. Artinya keberadaan dan realitas yang menyertai kehidupan manusia adalah hakikat secara fundamental. Setelah yang ada, masih ada yang ada lagi, begitu seterusnya. Karena manusia tidak sempurna. Kesempurnaan manusia itu ketidaksempunaan di dalam kesempurnaan. Begitu pula sebaliknya, ketidaksempurnaan manusia merupakan makna suatu kesempurnaan itu sendiri. Secara filosofis, ilmu pengetahuan harus dipahami dari 3 pilar,  yaitu; ontologi, epistemologi dan aksiologi.

1)      Ontologi

Ontologi merupakan suatu teori tentang makna dari suatu objek, properti dari suatu objek, serta relasi objek tersebut yang mungkin terjadi pada suatu domain pengetahuan. (Rai Utama: 2013, hal. 83). Manusia tidak sempurna dan terbatas oleh ruang dan waktu. Ketidak sempurnaan manusia itulah yang menjadi nilai tambah bagi manusia. Jika manusia sempurna maka ia tidak akan mampu hidup di dunia.

Pandangan-pandangan pokok ontologi (Suaedi: 2016, hal.84-87)

a.       Monoisme

Aliran filsafat yang menyatakan bahwa hanya ada satu kenyataan fundamental. Tergolong di dalamnya materialisme (hanya berpusat pada materi) dan idealisme (pemikiran tertinggi adalah ide). Idealism, sebaik-baiknya filsafat adalah paham ruang dan waktu. Orang bodoh itu yang tidak mengerti ruang dan waktu. Intuisi dua satu yaitu intuisi daya sadar dan daya tangkap manusia melalui kemampuan merasa dan berpikir instingtif dan bawah sadar dalam mengikuti fenomena menembus ruang dan waktu (Marsigit. Filsafat Penjumlahan). Pancasila itu pada hakikatnya monodualisme. Yaitu habluminallah dan habluminnas.

b.      Dualisme

Aliran yang berpendapat bahwa benda terdiri atas dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan ruh, jasad dan spirit, materi bukan muncul dari ruh, serta roh bukan muncul dari benda.

c.       Pluralisme

Paham ini berpeandangan bahwa segala macam bentuk merupakan kenyataan. Paham yang menyatakan bahwa alam ini tersusun dari berbagai unsur. Dalam buku Filsafat Ilmu dan Logika (2013, hal. 86-87) terdapat dua tambahan pandangan yaitu; nihilisme dan agnotisisme.

 

2)      Epistemologi

Epistemologi ialah cabang filsafat yang menyelidiki asal mula, susunan, metode-metode dan sahnya pengetahuan (Buku Unsur-Unsur Filsafat, Louis Kattsoff). Epistemologi is one the core areas of philosophy. It is concerned with the nature, sources and limits of knowledge. There is a vast array of view about those topics, but one virtually universal presupposition is that knowledge is true belie, but not mere true belief (Concise Routledge Encyclopedia of Philosophy, Taylor and Francis, 2003) (Dalam Rai Utama, 2013, hal. 83).

Aliran-aliran dalam epistemologi:

a.       Rasionalisme, adalah paham yang mengganggap sumber pengetahuan manusia adalah rasio. Rasionalisme itu ialah berpikir, dengan berpikir maka akan terbentuklah pengetahuan. (Suaedi: 2016, hal 7). Topik yang sangat sering dikaitkan dalam mengartikan logicism adalah matematika. Karena dianggap cara dan solusi dalam memecahkan masalah haruslah menggunakan logika. Aliran filsafat yang menggunakan logika ini adalah rasionalisme.

b.      Empirisme, paham yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengetahuan manusia.

c.       Realisme, adalah anaggapan bahwa objek indera kita adalah real (nyata).

d.      Kritisisme, paham yang mendamaikan emperisme dan rasionalisme. Paham ini berpusat pada objek. Pengetahuan manusia bisa berasal dari akal dan pengalaman.

e.       Positivisme, paham ini mengajarkan bahwa kebenaran merupan suatu hal yang logis dan ada bukti empirisnya. Ilmu logis dengan fakta objek.

f.       Skeptisisme, seseorang yang mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris. Seperti seorang yang sedang bermimpi, sulit membedakan hal yang nyata (empiris) dan yang tidak nyata (khayal)

g.      Pragmatisme, aliran  filsafat yang menjelaskan segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat.

Terdapat berbagai metodologi memperoleh pengetahuan, salah satunya ialah yang metode induktif. David Hume (1711-1776) telah membuat pernyataan yang berdasarkan observasi tunggal betapapun besar jumlahnya, secara logis tak dapat menghasilkan suatu pernyataan umum yang tak terbatas (Suaedi: 2016, hal. 100)

 

3)      Aksiologi

Dalam bahasa Yunani, aksiologi berasal dari kata axios artinya nilai dan logos artinya teori atau ilmu. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. Aksiologi bisa juga disebut sebagai the theory of value atau teori nilai. (Rai Utama: 2013, hal. 83) Dalam pembahasan aksiologi nilai menjadi fokus utama. Dalam filsafat nilai akan berkaitan dengan logika, etika dan estetika (Salam. 1997).

Hidup adalah terpilih atau memilih. Hidup terpilih oleh Tuhan, dan manusia diberi kesempatan memilih hidupnya. Maka jumlah atau tambah terpilih adalah jumlah atau tambah berketentuan yaitu milik Tuhan. Jumlah atau tambah perubahan diberikan kepada manusia disertai dengan jumlah atau tambah perubahan berketentuan. (Marsigit, Filsafat Penjumlahan). Sifat itu ada yang tetap, seperti takdir. Tidak ada manusia yang mampu merubah takdir. Dan juga ada yang berubah, seperti manusia, beubah setiap saatnya. Kemarin, hari ini, besok hari, ataupun tadi, sekarang, dan nanti. Adanya mengalami perubahan pada manusia.

Spiritualism merupakan filsafat absolutism, karena tidak ada manusia yang mampu menentang kuasa Tuhan (causaprima, sebab dari segala sebab). Adanya definisi dan asumsi yang tetap. Contoh berpikir logicism ialah ketika membahas wanita maka akan coherentism dengan perempuan. Lalu analitiknya ialah seorang ibu, kemudian konsisten itu ialah yang kita pikirkan (logika) melahirkan. Tidaklah mungkin seorang ayah atau laki-laki dapat melahirkan.

Kebanyakan orang menjadi masalah buat orang lain karena tidak menguasai dunianya. Mengapa demikian? Karena ia tidak memahami dunianya. Manusia terikat pada ruang dan waktu. Dalam filsafat juga ada yang dinamakan aksioma dan teorema. Apriori ialah pemahaman tanpa melihat objek yang dibicarakan, perannya pada level orang dewasa.

Permenides, teori filsafat bersifat tetap, misalkan A=A. Hukum identitas tautologis hanya ada di dalam pikiran manusia. Meyakini Tuhan itu Esa/satu merupakan monoism (dari segi filsafat). Sementara itu Rene Descartes, seorang tokoh rasionalism dan scepticism, karena terlalu berfokus pada pikirannya, ia sampai meragukan adanya Tuhan. Menurut Descartes sebenar benar ilmu harus berdasarkan rasio (pikiran). Scepticism sudah ada sejak zaman yunani kuno. Kemudian muncullah empericism yang menentang pemikiran Descartes, tokohnya David hume.

Filsafat itu bersifat berubah. Artinya adanya pilihan, sehingga bagi manusia memilih itu adalah ikhtiar. Hidup yang manusia akan ada yang berubah. Filsafat realisme dan materialism yang bekerja pada pemikiran ini. Karena menganggap bahwa ilmu pengetahuan itu harus adanya contoh. Meyakini adanya hukum alam, bukan logicism. Sehingga muncul yang namanya corespondensialism. Yang saling berkorespondensi adalah realita, fakta dan persepsi. Persepsi sintetik tidak menggunakan logika analitik. Semua hal bersifat material. Dan akan meyakini kebenaran suatu ilmu pengetahuan berdasarkan aposteriori, yaitu harus melihat langsung, perannya pada level anak-anak. Semuany harus berdasarkan pengalaman

Muncul lah tokoh Imanuel Kant (1671), ia membenarkan apriori dan sintetik. Sebenar-benar ilmu menurut nya adalah apriori dan sintetik. Bukunya the critic of dualism. Dalam perkembangan filsafat muncul John Locke (1632-1714) David Hume (1711-1776) dan Immanuel Kant (1724-1804). Ketiga filosof ini memberi pengaruh cukup besar terhadap perkembangan filsafat ilmu selanjutnya. Berdasar pada empirisme radikal yang dianutnya Hume yakin bahwa cara kerja logis induksi yang diperkenalkan oleh Bacon tidak mempunyai dasar teoritis sama sekali. Logika induktif ialah kontradiksi: dua kata yang bertentangan satu sama lain sebab induksi melanggar salah satu hukum logika yaitu bahwa kesimpulan tidak boleh leboh luas dari pada premis. Sanggahan Hume ini secara konsekwen sesuai dengan anggapan dasarnya bahwa hanya ada dua cara pengetahuan, yaitu pengetahuan empiris dan abstract reasoning concerning quantoty or number, yang keduanya deduktif. (Rai Utama: 2013, hal. 14)

Kant dalam hal ini memperkenalkan cara pengenalan dan mengambil kesimpulan secara sintetis yang di peroleh secara a posteriori dan putusan analitis dan diperoleh secara a priori, di samping itu juga kesimpulan yang bersifat sintetis yang juga diperoleh secara a priori. Ilmu pasti disusun atas putusan yang a priori yang bersifat sintetis. Ilmu pengetahuan mengandaikan adanya putusan - putusan yang memberikan pengertian baru (sintetis) dan yang pasti mutlak serta bersifat umum (a priori). Maka ilmu pengetahuan menuntut adanya putusan-putusan yang bersifat a priori yang bersifat sintesis. Ketiga teorinya ini dikenal dengan nama Kritik Rasio Murni yang dikemukakan dalam Kritik der Reinen Vernunft. (Rai Utama: 2013, hal. 15).

Positivisme merupakan suatu aliran filasafat yang dibangun oleh Auguste Comte (1798-1857). Intinya positivisme ingin membersihkan ilmu dari spekulasi-spekulasi yang tidak dapat dibuktikan secara positif. Comte ingin mengembangkan ilmu dengan melakukan percobaan (eksperimen) terhadap bahan faktual yang terdapat dalam kenyataan empirik, bukan dengan jalan menyusun spekulasispekulasi rasional yang tidak dapat dibuktikan secara positif lewat eksperirnen. Bagi Comte, positivisme merupakan tahap akhir atau puncak dalam perkembangan pemikiran manusia. Comte membagi perkembangan pernikiran manusia dalam tiga.tahap, yaitu: a) Tahap mistik-teologik; b) Tahap metafisik; 3) Tahap positif. (Rai Utama: 2013, hal : 29).

Kemudian muncul tokoh Aguste Compte (1857), mengatakan semua pendepat mereka tidak ada gunanya membangun dunia. Menurutnya agama itu tidak logis, tidak dapat membangun dunia, dalam bukunya positivism. Ia menaruh agama/spiritualitas. Teknologi itu menghasilkan kesejarteraan dan kemunafikan. Tidak ada orang saat ini yang tidak terlambat shalat karena HP.

 

Sumber : Seminar Nasional Pendidikan Matematika (SENDIKA)

“Inovasi Pendidikan di Tengah Tantangan Global” oleh Marsigit

 

            Perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini, secara garis besar dapat digambarkan seperti bagan di atas. Power now comtemporary, archaic (manusia baru, yang diuji berkali kali tapi tidak mau membaca), tribal (pedalaman), tradisional, feudal, modern, pos modern. Keseluruhannya di latar belakangi dengan capitalism, materialism, pragmatism, hedonism, utilitarisnism, functionalism dan liberalism. Dan sekarang ini muncul gerakan Trumpism, America merasa telah menguasai dunia.

 

 

Sumber :

Marsigit. 2017. “Inovasi Pendidikan di Tengah Tantangan Global”. Seminar Nasional Pendidikan Matematika (SENDIKA).

Marsigit. Filsafat Penjumlahan. Media Sosial Facebook.

Rai Utama, I Gusti Bagus. 2013. Filsafat Ilmu dan Logika. Universitas Dhyana Pura Badung.

Suaedi 2016. Pengantar Ilmu. PT penerbit IPB Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar