Refleksi Filsafat “Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran
Matematika Siswa SMP”
Khairul
Bariyah, S.Pd
Prof.
Marsigit, MA
Pendidikan
karakter merupakan landasan penting pada kurikulum 2013 yang di perbaharui pada
tahun 2014. Munculnya istilah ini dikarenakan terjadinya dekadensi moral di
kalangan pelajar dan mahasiswa yang sangat memperihatinkan. Perilaku mereka
tidak lagi mencerminkan bahwa mereka adalah seorang terpelajar, berbudaya dan
berakhlak mulia. Thomas Lickona adalah seorang ahli pendidikan karakter Amerika
dari Cotland University. Menurut Thomas Lickona (dalam Kosim, 2011) sebuah
bangsa sedang menuju jurang kehancuran, jika memiliki sepuluh tanda-tanda
zaman, yaitu meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, membudayakan
ketidakjujuran, berkembangnya sikap fanatik terhadap suatu kelompok, semakin
rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru; semakin kaburnya moral baik
dan buruk, penggunaan bahasa yang memburuk; meningkatnya perilaku merusak diri
seperti penggunaan narkoba, alkohol, dan seks bebas; rendahnya rasa tanggung
jawab sebagai individu dan sebagai warga negara; menurunnya etos kerja; dan
adanya rasa saling curiga, serta kurangnya kepedulian di antara sesama.
Hadirnya pendidikan diharapkan mampu mengatasi hal-hal
tersebut. Oleh karena itu dengan perubahan pada kurikulum 2013 yang lebih
mengedepankan pembentukan karakter siswa, setiap guru mempunyai kewajiban dalam
menjalankan selama proses belajar mengajar di ruang kelas. Hubungan karakter
dan matematika juga terdapat dalam salah satu karya Prof. Marsigit, MA,
“Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika”. Dalam
tulisannya, beliau membahas tentang terdapatnya benang merah antara pendidikan
karakter dan pendidikan matematika, serta implementasinya. Interaksi sosial diantara
para siswa dan guru akan dapat memberikan kegiatan kritisisasi untuk pembetulan
konsep-konsep, sehingga siswa akan memperoleh perbaikan konsep, sehingga
pengetahuan subyektif matematikanya telah sama dengan pengetahuan obyektifnya.
Pengetahuan baru matematika dapat diperoleh siswa dari
lingkup sosial ataupun individual. Proses negosiasi sosial (social negotiation
process) dapat membangun pengetahuan baru matematika. Dan juga dapat
menunjukkan hubungan antara pengetahuan subjektif dan pengetahuan objektif
dalam matematika. Pada proses pembelajaran matematika di sekolah, matematika
dipandang sebagai kebenaran absolut dan pasti, akan tetapi siswa dipandang
sebagai makhluk yang berkembang. Oleh karena itu, guru sangat besar perannya
dalam perkembangan pengetahuan dan kemampuan siswa. Sebagaimana yang kita
ketahui bahwa fungsi guru ada 3, yaitu sebagai fasilitator, sumber ajar dan
memonitor kegiatan siswa. Sehingga implementasi pada pendidikan matematika dan
karakter membutuhkan proses mengkomunikasikan ilmu matematika secara
bervariasi.
Salah satu pokok bahasan mata pelajaran matematika SMP
yang dapat disisipi untuk menanamkan pendidikan karakter yaitu persamaan garis
lurus. Suatu persamaan akan membentuk garis lurus jika terhimpun variabel x dan
y, dan masing-masing variabel pangkat terbesarnya adalah 1. Setelah guru
menunjukkan contoh beberapa garis lurus, guru mencoba menafsirkan setiap garis
dengan 2 aspek berbeda dan saling berkaitan. Misalkan sumbu-x diibaratkan
dengan dengan motivasi dan sumbu-y diibaratkan usaha atau kerja keras manusia
(bersifat relatif). Siswa diajarkan memaknai garis lurus menjadi suatu kalimat
dan pelajaran apa yang dapat diambil.
Filsafatnya garis ialah suatu benda pikir dan filsafatnya
lurus adalah intuitif. Jika keduanya diintegrasikan pada pemisalan sumbu-x dan
sumbu-y di atas, maka akan mempermudah siswa paham. Pemahaman siswa juga dapat
membentuk karakter yang baik pada dirinya. Pada contoh ini diibaratkan pada
seseorang yang kerja keras dan mempunyai motivasi. Jika garis lurus mempunyai
kemiringan 1, maka artinya keduanya seimbang. Istilah seimbang dalam filsafat
ialah landasan kebahagiaan. Akan tetapi jika garis lurus mendatar sejajar
dengan sumbu-x, maka artinya orang yang banyak motivasi akan tetapi tidak
pernah berusaha atau bekerja keras.
Karakter kerja keras menjadi penting dalam menggapai
sesuatu. Kerja keras tercantum dalam salah satu dari 18 karakter merupakan
hasil diskusi Pendidikan Budaya dan Bangsa (Kepmendiknas, 2010). Kemampuan
siswa untuk bekerja keras dan mempunyai motivasi tinggi dapat membantu siswa
menggapai seseuatu yang diinginkannya. Oleh karena itu, pembelajaran matematika
pada materi persamaan garis lurus diharapkan mampu mengembangkan karakter kerja
keras siswa SMP.
Referensi
Marsigit. Implementasi
Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika. Universitas Negeri Yogyakarta.
Kosim, M.
2011. Urgensi Pendidikan Karakter. KARSA, Vol. IXI No. 1 April 2011. Terdapat
dalamhttp://download.portalgaruda.org/article.php?article=251036&val=6749&title=URGENSI%20PENDIDIKAN%20KARAKTER
Tidak ada komentar:
Posting Komentar