Kamis, 17 Desember 2020

 

Refleksi Filsafat “Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Matematika Siswa SMP”

Khairul Bariyah, S.Pd

Prof. Marsigit, MA

 

            Pendidikan karakter merupakan landasan penting pada kurikulum 2013 yang di perbaharui pada tahun 2014. Munculnya istilah ini dikarenakan terjadinya dekadensi moral di kalangan pelajar dan mahasiswa yang sangat memperihatinkan. Perilaku mereka tidak lagi mencerminkan bahwa mereka adalah seorang terpelajar, berbudaya dan berakhlak mulia. Thomas Lickona adalah seorang ahli pendidikan karakter Amerika dari Cotland University. Menurut Thomas Lickona (dalam Kosim, 2011) sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran, jika memiliki sepuluh tanda-tanda zaman, yaitu meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, membudayakan ketidakjujuran, berkembangnya sikap fanatik terhadap suatu kelompok, semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru; semakin kaburnya moral baik dan buruk, penggunaan bahasa yang memburuk; meningkatnya perilaku merusak diri seperti penggunaan narkoba, alkohol, dan seks bebas; rendahnya rasa tanggung jawab sebagai individu dan sebagai warga negara; menurunnya etos kerja; dan adanya rasa saling curiga, serta kurangnya kepedulian di antara sesama.

Hadirnya pendidikan diharapkan mampu mengatasi hal-hal tersebut. Oleh karena itu dengan perubahan pada kurikulum 2013 yang lebih mengedepankan pembentukan karakter siswa, setiap guru mempunyai kewajiban dalam menjalankan selama proses belajar mengajar di ruang kelas. Hubungan karakter dan matematika juga terdapat dalam salah satu karya Prof. Marsigit, MA, “Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika”. Dalam tulisannya, beliau membahas tentang terdapatnya benang merah antara pendidikan karakter dan pendidikan matematika, serta implementasinya. Interaksi sosial diantara para siswa dan guru akan dapat memberikan kegiatan kritisisasi untuk pembetulan konsep-konsep, sehingga siswa akan memperoleh perbaikan konsep, sehingga pengetahuan subyektif matematikanya telah sama dengan pengetahuan obyektifnya.

Pengetahuan baru matematika dapat diperoleh siswa dari lingkup sosial ataupun individual. Proses negosiasi sosial (social negotiation process) dapat membangun pengetahuan baru matematika. Dan juga dapat menunjukkan hubungan antara pengetahuan subjektif dan pengetahuan objektif dalam matematika. Pada proses pembelajaran matematika di sekolah, matematika dipandang sebagai kebenaran absolut dan pasti, akan tetapi siswa dipandang sebagai makhluk yang berkembang. Oleh karena itu, guru sangat besar perannya dalam perkembangan pengetahuan dan kemampuan siswa. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa fungsi guru ada 3, yaitu sebagai fasilitator, sumber ajar dan memonitor kegiatan siswa. Sehingga implementasi pada pendidikan matematika dan karakter membutuhkan proses mengkomunikasikan ilmu matematika secara bervariasi.

Salah satu pokok bahasan mata pelajaran matematika SMP yang dapat disisipi untuk menanamkan pendidikan karakter yaitu persamaan garis lurus. Suatu persamaan akan membentuk garis lurus jika terhimpun variabel x dan y, dan masing-masing variabel pangkat terbesarnya adalah 1. Setelah guru menunjukkan contoh beberapa garis lurus, guru mencoba menafsirkan setiap garis dengan 2 aspek berbeda dan saling berkaitan. Misalkan sumbu-x diibaratkan dengan dengan motivasi dan sumbu-y diibaratkan usaha atau kerja keras manusia (bersifat relatif). Siswa diajarkan memaknai garis lurus menjadi suatu kalimat dan pelajaran apa yang dapat diambil.

Filsafatnya garis ialah suatu benda pikir dan filsafatnya lurus adalah intuitif. Jika keduanya diintegrasikan pada pemisalan sumbu-x dan sumbu-y di atas, maka akan mempermudah siswa paham. Pemahaman siswa juga dapat membentuk karakter yang baik pada dirinya. Pada contoh ini diibaratkan pada seseorang yang kerja keras dan mempunyai motivasi. Jika garis lurus mempunyai kemiringan 1, maka artinya keduanya seimbang. Istilah seimbang dalam filsafat ialah landasan kebahagiaan. Akan tetapi jika garis lurus mendatar sejajar dengan sumbu-x, maka artinya orang yang banyak motivasi akan tetapi tidak pernah berusaha atau bekerja keras.

Karakter kerja keras menjadi penting dalam menggapai sesuatu. Kerja keras tercantum dalam salah satu dari 18 karakter merupakan hasil diskusi Pendidikan Budaya dan Bangsa (Kepmendiknas, 2010). Kemampuan siswa untuk bekerja keras dan mempunyai motivasi tinggi dapat membantu siswa menggapai seseuatu yang diinginkannya. Oleh karena itu, pembelajaran matematika pada materi persamaan garis lurus diharapkan mampu mengembangkan karakter kerja keras siswa SMP.

 

Referensi

Marsigit. Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika. Universitas Negeri Yogyakarta.

Kosim, M. 2011. Urgensi Pendidikan Karakter. KARSA, Vol. IXI No. 1 April 2011. Terdapat dalamhttp://download.portalgaruda.org/article.php?article=251036&val=6749&title=URGENSI%20PENDIDIKAN%20KARAKTER

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar